Harga Minyak Belum Lepas dari Sentimen Negatif
Harga minyak mentah menguat pada perdagangan pekan lalu, tetapi harga emas hitam ini masih rentan lemah, karena prospek permintaan masih buram.
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA – Impor kedelai China dari Amerika Serikat dilaporkan turun 2,5% pada Juni dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, karena ketegangan baru antara Beijing dan Washington membatasi pembelian.
Data bea cukai China menunjukkan, Sabtu (28/7/2019), seperti dikutip dari Reuters, Minggu (29/7/2019), China telah mendatangkan 614.805 ton kedelai dari AS pada bulan lalu. Jumlah itu turun 2,5% dari Juni 2018. Angka itu juga turun 37% dari 977.024 ton pada Mei tahun ini.
Penurunan impor juga terjadi ketika wabah penyakit demam babi Afrika merebak di China. Penyakit tersebut sudah menyebabkan kematian jutaan hewan tersebut dan menurunkan permintaan untuk pakan ternak. Kedelai merupakan bahan baku untuk makanan ternak babi di China.
Selain AS, impor kedelai dari Brasil juga turun 29,9% menjadi 5,5 juta ton pada Juni dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah tersebut juga turun dari 6,3 juta ton pada Mei.
Amerika Serikat adalah pemasok kedelai terbesar ke China sebelum perang dagang, tetapi impor dari negara itu turun tajam setelah Beijing mengenakan tarif 25% pada kargo AS.
Perusahaan-perusahaan negara China melanjutkan beberapa pembelian kargo AS setelah gencatan senjata perdagangan Desember lalu. Namun, pembelian menyusut setelah ketegangan meningkat lagi pada Mei lalu.
Beijing mengarahkan para importir swasta pada Jumat lalu tentang rencana untuk meningkatkan pembelian pasokan AS, sebagai isyarat niat baik ke Washington. Namun belum ada langkah nyata terkait hal tersebut.
Sementara itu, harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) ditutup menghijau 0,14% atau 1,25 poin ke posisi US$901,00 per gantang. Mekarnya harga komoditas agrikultur ini ini didukung oleh optimisme pasar terhadap perundingan dagang AS dan China pekan ini dapat menunjukkan hasil positif.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat (26/7/2019) mengatakan, dia tidak akan terkejut jika China akan menunda perundingan sampai setelah pemilu AS pada 2020. Menurutnya hal itu untuk menjamin kesepakatan dagang sesuai harapan mereka, dapat negosiasi dengan presiden yang berbeda.
“Saya tidak berpikir secara personal China akan menandatangani kesepakatan jika saya memiliki kesempatan 2% kalah di pemilu,” kata Trump kepada awak media di Gedung Putih, sesaat sebelum para pejabat tinggi AS menuju Shanghai untuk melanjutkan perundingan dagang dengan China.
Dia menilai, China bisa saja mengulur waktu membahas perundingan ini. “Mari tunggu, mari tunggu. Mungkin Trump akan kalah dan kita dapat berurusan dengan [presiden] yang lain,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Harga minyak mentah menguat pada perdagangan pekan lalu, tetapi harga emas hitam ini masih rentan lemah, karena prospek permintaan masih buram.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
PN Tipikor Bengkulu vonis bebas 4 terdakwa kasus korupsi lahan tol. Hakim sebut tidak ada unsur melawan hukum.
Simak jadwal lengkap SPMB SMA/SMK DIY 2026, kuota jalur, hingga tahapan pendaftaran. Pastikan tidak terlewat!