Kisah Orang Jogja yang Ikut Simulasi Hidup di Mars

Vincensius Christiawan (dua kiri) bersama rekan satu tim yang ikut simulasi bertahan hidup di Mars di gurun Utah, Amerika Serikat. - Harian Jogja/Ist.
13 Oktober 2018 12:25 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJAVincensius Christiawan, biasa disapa Venzha, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mengikuti simulasi Mars Desert Research Station (MDRS) yang dihelat The Mars Society di Utah, Amerika Serikat. Simulasi bertahan hidup di Mars itu menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi Venzha untuk berkontribusi mengembangkan dunia sains di Indonesia yang tertinggal dari negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Rumah Venzha di sekitar Jokteng Kulon, Kota Jogja, dipenuhi benda-benda berbau ruang angkasa. Kumpulan komik science fiction era 1950 hingga 1980 tersusun rapi di rak kayu. Action figure alien ditempatkan dengan cermat di lemari-lemari kaca, juga koleksi mainan UFO yang pernah beredar di Indonesia sejak dekade 1950. Di depan pintu masuk, terpajang karyanya yang dipamerkan di Art Jog 2016 bertajuk Universal Influence, yaitu menara Indonesia Space Science Society (ISSS).

Instalasi berbentuk roket yang berfungsi sebagai transmiter suara dari Bumi ke ruang angkasa itu merupakan bagian dari sejarah pertemuan pertamanya dengan Direktur The Mars Society Jepang, Yusuke Murakami, sosok yang mengantarkannya hingga lolos menjadi peserta MDRS.

“Waktu Art Jog 2016 dia datang. Dia hadir sebagai salah satu pembicara di International SETI Conference 2016 yang diadakan oleh ISSS dan v.u.f.o.c lab. Ada juga Direktur Art Science Museum dan dia memang sedang mencari seniman kontemporer yang fokus ke space science untuk berkolaborasi dengan NASA di Art Science Museum. Yusuke lihat karya saya, saya ajak dia ke seminar Search for Extra Terrestrial Intelligence [SETI] tersebut di Kota Jogja. Di sana saya tanya ke dia soal MDRS,” kata pendiri laboratorium seni HONF Foundation itu.

Menanggapi pertanyaan Venzha, dahi Yusuke berkerut. Yusuke langsung bertanya kepada Venzha, “Kamu sakit apa?”

Kalimat itu bukan untuk menanyakan kewarasan Venzha yang berminat mendaftar simulasi hidup di planet lain. Untuk mengikuti MDRS, seseorang tak boleh sakit sedikit pun. MDRS menerapkan metode pelatihan semimiliter dengan disiplin ketat. Peserta harus kuat mental dan fisik. Sebab, MDRS memakai analisis dari banyak cabang ilmu untuk mencari tahu seberapa layak Mars jadi tempat tinggal manusia dan pengetahuan turunan dari pelatihan itu diwariskan kepada generasi mendatang.

“Setelah itu rentetan pertanyaan langsung keluar dari beliau, seperti ‘Kamu bisa berhenti merokok?’, ‘Kamu kuat tidak?’. Saya jawab saya sanggup. Setelah itu saya pergi ke Jepang untuk wawancara, dua kali, di tahun 2016 dan 2017. Saya mendaftar pada 2016 untuk berangkat di 2018. Kayak haji gitu, berangkatnya ngantri,” kata Venzha.

Venzha hanya tertawa kecil ketika ditanya mengapa dirinya terpilih menjadi peserta MDRS bersama enam orang lainnya yang berasal dari berbagai negara. Menurut dia, para juri melihat kesungguhannya. Dia dinilai sebagai seniman yang sangat mencintai sains dan ruang angkasa (space science) yang rela melintasi batas-batas pengetahuan selama bertahun-tahun dengan menimba ilmu dari para saintis Indonesia serta ilmuwan dari berbagai negara yang tersebar di banyak institusi penting.

Setelah dinyatakan lolos, dia puaskan hatinya melakukan apa pun yang dia inginkan selama setahun. Enam bulan mendekati keberangkatan, Venzha berhenti merokok. Motor satu-satunya dia jual dan dia membeli sepeda. Saban hari selama enam bulan, Venzha mengayuh sepeda ke mana pun dia pergi. “Saya juga mengurangi kontak dengan televisi. Handphone? Oh masih, tetapi frekuensinya saya kurangi. Sebab di sana tidak akan ada televisi dan handphone. Saya takut kalau enggak persiapan, saya tidak bisa bertahan.”

Simulasi bertahan hidup di Mars yang diikuti Venzha di gurun Utah, Amerika Serikat./Ist-Wataru Okamoto

 Medan Ekstrem

Venzha tiba di Utah, Amerika Serikat, untuk menjalani pelatihan sebulan penuh. Di sana dia tinggal di sebuah kabin berkubah dengan ukuran sangat kecil. Kabin itu digunakan untuk berdiskusi, makan, dan tidur. Toilet di dalam kubah berdiameter kurang lebih enam meter, dilengkapi tandon-tandon air; perlengkapan bertahan hidup; dan penyaring air.

Venzha berada dalam satu tim bersama Yusuke Murakami, manusia yang pernah tinggal di Antartika selama 18 bulan, dan ahli biologi Jepang Kai Takeda. Mereka juga ditemani Aibo, robot bilingual berbentuk anjing, yang berbicara bahasa Jepang dan Inggris. Tim yang terdiri dari tujuh orang ini setiap hari berinteraksi dalam dua bahasa.

“Masing-masing dari kami punya tugas berbeda. Saya mengoperasikan alat pendeteksi radiasi Matahari. Sebelumnya saya sudah bikin alat itu di Indonesia, bersama dosen Jurusan Teknik Informatika Universitas Sanata Dharma, Pak Yudianto Asmoro,” kata Venzha.

Selain tugas pokok, masih ada tugas lain yang harus digarap. Contohnya mencari benda aneh atau sampah di gurun kemudian menelitinya dan melaporkan kepada sang commander. Semua dilakukan dengan penuh analisis dan perhitungan. Peserta yang kepergok tak punya perencanaan akan dijatuhi hukuman.

Venzha harus bertahan di suhu gurun Utah yang sangat ekstrem. Ketika malam, temperatur dapat menyentuh minus 20 derajat Celsius, sedangkan ketika siang hari bisa sampai 42 derajat Celsius. Dalam kondisi tersebut, peserta tak boleh mandi dan minum seenaknya. Mereka hanya mandi sepekan sekali dengan air yang terbatas.

“Di suhu ekstrem gurun, air dari shower serasa jarum yang menusuk kulit. Sudah gitu kami harus cepat dan hemat, tidak boleh pakai air lebih dari lima liter. Kalau melanggar dimarahi, dibilang tidak menghargai nyawa orang lain. Pokoknya gimana caranya air itu harus cukup selama sebulan sampai misi selesai, kalau enggak ya mati dong kita.”

Tandon juga diletakkan di dekat kubah, airnya untuk menanam dan menumbuhkan aneka sayur dan buah-buahan. Mereka harus menyirami bibit tanaman dengan air yang terukur. Ketika tumbuh, sayur dan buah itu akan dikonsumsi. Hal-hal teknis semacam itu yang paling menyusahkan Venzha dan membuatnya tertantang.

Dia mesti mengatur pembukaan kubah kabin yang lebarnya disesuaikan dengan perubahan suhu gurun. Salah perhitungan sedikit saja, bibit gagal tumbuh. Bahan makanan pun berkurang.

Makanan pokok Venzha adalah space food berbentuk seperti odol dengan bermacam rasa seperti kari, keju, dan apel. Satu peserta membutuhkan dua space food per hari. “Rasanya enak banget,” kata Venzha sambil menunjukkan sisa space food berbentuk segitiga yang diletakkan di ruang tamunya.

Simulasi bertahan hidup di Mars yang diikuti Venzha di gurun Utah, Amerika Serikat./Ist-Makoto Kawamura

Salah Persepsi

Menjalani serangkaian kegiatan semimiliter di gurun dengan suhu ekstrem bukan berarti peserta akan berangkat ke Mars. Venzha sudah terlampau sering menemui orang yang salah persepsi terhadap Mars.

Dahulu, manusia diprediksi memerlukan waktu 2,5 tahun untuk sekali tempuh menuju Mars. Dengan kemajuan teknologi yang semula menggunakan pembakaran roket menjadi cahaya, seorang astronaut diperkirakan hanya perlu enam hingga sembilan bulan untuk sampai ke Mars.

Elon Musk, bos Tesla Motors; pendiri PayPal; dan CEO SpaceX, perusahaan yang menyokong simulasi hidup di Mars yang diikuti Venzha, memperkirakan hanya butuh 80 hari bagi roket dengan teknologi terbaru untuk sampai ke Mars.

“Tetapi sampai sejauh ini belum ada teknologi manusia yang sudah siap untuk mengantarkan kita ke Mars. Kita masih memerlukan beberapa tahun dan saat ini berbagai space agency seperti NASA, SpaceX, atau Blue Origin sedang berlomba untuk menjadi yang tercepat,” kata Venzha.

Menurut Venzha, sejatinya tugas MDRS adalah mengadvokasi peserta pelatihan untuk menghasilkan banyak turunan ilmu dari pelatihan itu.

“Bukan berarti pasti berangkat ke Mars. Siapa tahu ketika teknologinya sudah ada, kami sudah mati kan? Ini buat generasi mendatang. Saat ini sudah ada 1.000 orang yang pernah mengikuti MDRS. Perkembangan teknologi juga semakin pesat, nanti kalau teknologi sudah jadi, pasti astronaut yang sudah berpengalaman yang mengorbit duluan. Kalau kami sekarang hanya transfer ilmu saja ke generasi selanjutnya,” kata Venzha.

Salah satu pengetahuan yang bisa dimanfaarkan generasi mendatang adalah film dokumenter. Saat berlatih, mereka direkam oleh 40 kamera yang terpasang di gurun Utah. Film dokumenter tersebut digarap dan disponsori oleh NHK, stasiun televisi terkemuka Jepang.

“Ilmu yang didapatkan dari MDRS atau suatu saat nanti, Mars, harus dikembalikan ke Bumi dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia di Bumi.”

Bagi Venzha, Mars bukanlah tempat yang cocok untuk hidup manusia. Jika manusia membutuhkan tempat lain untuk hidup selain Bumi, masih banyak planet lain yang lebih cocok untuk habitat manusia.

Memadukan Pengetahuan

Keprihatinan selalu muncul dalam diri Venzha ketika melihat banyak ilmuwan jenius Indonesia yang bekerja di luar negeri.

“Karena belum ada fasilitas memadai.”

Ketika berkunjung ke gedung-gedung institusi yang memfasilitasi ilmu sains di Indonesia, Venzha hanya melihat beberapa beberapa instrumen sederhana yang kurang mencerminkan sebuah institusi sains.

Itu adalah pemandangan yang sangat berbeda dengan laboratorium sains di beberapa negara. Hasil inovasi dan eksplorasi ditampilkan dan ditata dengan baik, terawat, serta dideskripsikan dengan jelas. Sangat layak untuk dikunjungi oleh masyarakat luas. Misalnya beberapa miniatur roket, pesawat, mesin, sejarah pengembangan, urutan penciptaan, atau penggambaran sebuah  galaksi.

Venzha menaksir ketertinggalan sains Indonesia dengan negara maju sekitar 30 tahun.

Sepulangnya dari MDRS, dia bergegas mengunjungi SETI Pusat di Silicon Valley, California, untuk melaporkan hasil analisis MDRS-nya.

“Kemudian balik ke Los Angeles, ke SpaceX. Itu perusahaan semacam NASA. Setelah semua ilmu terkumpul, saya ke Lapan [Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional], menghadap Pak Thomas Djamaluddin [Kepala Lapan], dan beliau nawarin kolaborasi. Nanti November orang Lapan akan ke sini membicarakan proyek kami,” kata Venzha.

Venzha masih aktif menggandeng saintis-saintis di Indonesia untuk bergabung dalam Indonesia Space Science Society (ISSS).

“Sekarang saya mengumpulkan senior-senior Lapan dan ahli astronomi untuk saling support dalam ISSS. Mereka benar-benar brilian, luar biasa, sayang kalau ilmu di otak mereka yang rasanya saya pengin ijolan [bertukaran] itu, enggak dikembangkan. Mereka sangat antusias dengan rencana-rencana kami, mereka emang udah nunggu hal semacam ini sejak lama,” kata dia.

Menurut Venzha, kendala utama institusi sains saat ini adalah semuanya saling berdiam di laboratorium masing-masing. Lewat ISSS, Venzha mulai memikirkan proyek dasar. Tak terlalu muluk, cukup menciptakan buku tentang sains yang belum pernah ada di Indonesia. Tujuannya mengubah paradigma generasi muda yang masih linear dalam memilih profesi dan generasi muda pegiat sains yang masih takut bermimpi.

Setelah ikut simulasi hidup di Mars, Venzha berencana ikut simulasi hidup di Antartika  pada Februari hingga Maret 2019 di Jepang.

“Namanya simulasi kapal Shirase Expedition, kepanjangannya Simulation of Human Isolation Research for Antartica Based Space Engineering. Itu akan lebih ekstrem, karena tidak ada ruang terbuka. Bener-bener di ruang tertutup dengan suhu yang bisa dinaikturunkan secara ekstrem oleh pelatihnya. Yang jelas, ilmunya nanti juga akan saya transfer ke HONF atau ISSS.” (salsabila@harianjogja.com)