Marak Teror, Kerabat Polisi Senam Jantung

Rizka Amalia Shofa (kiri) dan Brigadir Swesti Anggraini Dewi. - Harian Jogja/Irwan A. Syambudi
16 Mei 2018 12:25 WIB Irwan A Syambudi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Punya anggota keluarga yang menjadi polisi di tengah rentetan teror bom akhir-akhir ini sungguh menguras emosi. Polisi satu demi satu berguguran karena aksi teror. Kerabat pun menanggung kecemasan yang kadang susah diredam.

Minggu (13/5) pagi, Rizka Amalia Shofa, 24, sedang prei dari pekerjaan sebagai seorang penulis dan juga pembicara publik. Sedari pagi, dia hanya berleha-leha di rumah indekosnya di kawasan Ngemplak, Sleman. Rizka berharap menikmati waktu luang dengan tenang penuh suka cita. Sampai tiba-tiba sekitar pukul 07.00 WIB berita aksi teror bom di sebuah gereja di Surabaya membuat liburnya tak tenang.

Melalui media sosial dia mencoba mencari tahu informasi terkini kejadian tersebut. Hingga belakangan setelah beberapa lama memantau lini masa, Rizka tahu, ada tiga bom yang meledak di tiga gereja secara berturut-turut pagi itu. Perasaannya campur aduk, setelah belum genap sepekan dibuat ketar-ketir dengan aksi gerombolan narapidana teroris yang membunuh lima anggota polisi dalam penjara di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Kecemasan Rizka bukan tanpa alasan. Ayahnya polisi. Dia waswas karena polisi telah menjadi sasaran aksi teror belakangan ini. Kecemasan itu semakin membuncah hingga malam sekitar pukul 21.00 WIB. Saat memantau Twitter, dia mendapatkan informasi, kembali adanya ledakan bom di sebuah rusunawa yang berdekatan dengan Kantor Polsek di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Malam itu wanita asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ini benar-benar gelisah. Kelewat paniknya, dia langsung menghubungi sang ayah Aiptu Suprayogi, 52, yang sehari-hari bertugas di Polsek Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah.

“Biasanya saya enggak pernah blak-blakan nanya ke bapak, atau berpesan supaya beliau hati-hati. Tetapi malam itu langsung [kirim pesan] Whatsapp bapak, karena pending saya tambah panik, langsung saya telepon,” kata dia kepada Harian Jogja, Selasa (15/5).

Bagi Rizka, dalam seumur hidupnya baru sekali ini ia sangat mencemaskan sang bapak. Ayahnya yang sudah menjadi polisi sejak belum menikah dengan ibu Rizka, Mubayanah, tak pernah sekali pun memberikan isyarat yang menghawatirkan saat bertugas di lapangan. Sang ayah selalu berpesan kepada keluarga bahwa menjadi polisi memiliki risiko yang harus dijalani dan tak perlu dikhawatirkan.

Namun, hatinya benar-benar menciut tiap kali teror menyasar anggota polisi. “Tahun lalu juga ada penyerangan di kantor polisi, sampai ada polisi meninggal karena ditusuk, itu juga membuat saya khawatir tapi tidak separah kemarin,” ujar alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) ini.

Kecemasan Ganda

Di sisi lain, menjadi polisi sekaligus memiliki anggota keluarga yang berprofesi sebagai Korps Bhayangkara tentu memiliki beban kekahawatiran ganda. Peran sebagai polisi skaligus istri dari seorang polisi dijalani oleh Brigadir Swesti Anggraini Dewi, 30. Polwan yang sehari-hari bertugas sebagai staf Sabhara Polda DIY ini, mulai Selasa (15/5) harus juga bertugas di Pos Penjagaan Polda DIY. Tugasnya tak main-main. Dia berada di garda paling depan dan paling rentan serangan teroris.

Serangan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya pada Senin (14/5) tepat berada di pos penjagaan. Brigadir Swesti mengakui rasa takut akan teror ada dalam dirinya. “Masalah takut atau tidak tetap ada rasa takut. Tetapi ya dikembalikan lagi saja ke Allah yang berkendak untuk hidup dan mati. Hidup dan mati itu yang mengatur ya yang membuat hidup kita,” katanya.

Oleh karena itu dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan dan menjaga diri sebaik mungkin. Terlebih dalam bertugas selama ini ia telah diberi pembekalan seperti latihan menembak, latihan penjagaan dan juga latihan patroli. Selain itu peralatan keselamatan seperti rompi antipeluru dan helm juga wajib dikenakan saat bertugas.

Di sisi lain, sebagai seorang istri polisi, Swesti juga mengaku memiliki rasa kehawatiran ketika sang suami juga bertugas di Sabhara Polda DIY. “Biasanya kalau wanita lebih memiliki kehawatiran, jadi kalau suami saya yang sedang bertugas, saya yang malah kkhawatir,” ungkapnya.

Swesti mengakui akhir-akhir ini keluarganya memang cenderung lebih mencemaskan kondisinya. Kedua orang tuanya yang tinggal di Jogja, selama beberapa hari terakhir setelah adanya rentetan teror menjadi lebih kerap menanyakan kabar. “Iya ibu akhir-akhir ini jadi sering telepon. Biasanya menanyakan kabar, sendang di mana, sudah pulang atau belum,” ujar ibu dua anak ini.