Kebakaran TPA Tangerang Sulit Padam, Ini Penyebabnya
Kebakaran TPA Jatiwaringin sulit dipadamkan karena mirip gambut. KLH kerahkan drone, Manggala Agni, dan TMC.
Dana Moneter Internasional (IMF). (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri)
Harianjogja.com, WASHINGTON — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan antara Iran dan negara-negara Barat berpotensi memicu krisis ekonomi global baru, terutama jika harga minyak melonjak tajam hingga 2027.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut skenario terburuk bisa terjadi apabila harga minyak mentah dunia menembus kisaran 125 dolar AS per barel. Kondisi tersebut dinilai akan menekan inflasi global dan memperburuk ketidakpastian ekonomi.
“Jika konflik berlanjut dan harga energi tetap tinggi, maka dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global akan jauh lebih buruk,” ujarnya dalam forum ekonomi internasional di Milken Institute, Senin (4/5/2026).
Harga Energi Jadi Kunci Stabilitas Global
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada biaya produksi, transportasi, hingga harga kebutuhan pokok di berbagai negara. IMF mencatat bahwa kenaikan harga energi berisiko memicu inflasi yang sulit dikendalikan, terutama di negara berkembang.
Dalam beberapa bulan terakhir, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sempat mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz—rute vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Gangguan di jalur ini membuat harga minyak sempat melonjak dan memicu kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi.
Upaya Gencatan Senjata Belum Berhasil
Upaya meredakan konflik sebenarnya telah dilakukan. Pada awal April 2026, Iran dan Amerika Serikat sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan dan membuka jalur diplomasi di Islamabad. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret.
Presiden AS, Donald Trump, kemudian memperpanjang masa gencatan senjata untuk memberi ruang bagi Iran menyusun proposal baru. Meski begitu, ketegangan di kawasan masih belum sepenuhnya mereda.
Sinyal Penurunan Harga, Tapi Risiko Masih Tinggi
Di sisi lain, Trump mengklaim mulai melihat tren penurunan harga energi dalam beberapa hari terakhir. Ia optimistis harga minyak akan turun signifikan jika konflik benar-benar berakhir.
Namun, sejumlah analis menilai volatilitas pasar masih tinggi. Ketidakpastian geopolitik, ditambah potensi gangguan pasokan, membuat harga minyak rentan kembali melonjak sewaktu-waktu.
Ancaman Nyata bagi Ekonomi Dunia
IMF menegaskan bahwa krisis energi dapat berdampak domino pada sektor lain, mulai dari perdagangan global, investasi, hingga daya beli masyarakat. Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi diprediksi akan paling terdampak.
Jika skenario harga minyak 125 dolar AS per barel benar-benar terjadi dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi global berisiko melambat tajam, bahkan memicu resesi di sejumlah kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kebakaran TPA Jatiwaringin sulit dipadamkan karena mirip gambut. KLH kerahkan drone, Manggala Agni, dan TMC.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.
Witan Sulaeman resmi perpanjang kontrak 3 tahun di Persija Jakarta. Siap tampil maksimal di bawah pelatih Shin Tae-yong.
Harga iPhone Juli 2026 di iBox turun, terutama iPhone 16e. Simak daftar lengkap harga terbaru dan seri baru iPhone 17e.
BMKG menyebut Siklon BAVI memengaruhi cuaca DIY. Prakiraan 5-7 Juli cerah berawan, namun gelombang laut selatan berpotensi tinggi.