Advertisement
Krisis Avtur Global, Harga Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Tiket pesawat / Ilustrasi freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai merembet ke sektor penerbangan global. Keterbatasan pasokan bahan bakar jet (avtur) serta lonjakan harga kini mengancam operasional maskapai, terutama di kawasan Asia dan berpotensi meluas ke Eropa.
Mengutip laporan Bloomberg pada Minggu (29/3/2026), perang yang berlangsung sejak akhir Februari tersebut membuat sejumlah kilang minyak di berbagai negara mengalihkan produksi untuk kebutuhan domestik. Akibatnya, pasokan bahan bakar jet di pasar global menyusut signifikan.
Advertisement
Kondisi ini langsung dirasakan maskapai penerbangan. Sejumlah operator dari Vietnam hingga Selandia Baru mulai membatalkan penerbangan, sementara China memilih membatasi ekspor bahan bakar demi menjaga stok dalam negeri.
Tidak hanya itu, maskapai juga mulai mengerek harga tiket untuk menutup lonjakan biaya operasional. Rute-rute yang dinilai tidak menguntungkan pun terpaksa dihentikan sementara.
BACA JUGA
“Tidak mungkin mempertahankan jumlah penerbangan jika pasokan bahan bakar jet terbatas,” ujar Vikas Dwivedi, ahli strategi energi global di Macquarie Group.
Ia mengingatkan, jika jalur strategis Selat Hormuz tetap terganggu, jumlah pesawat yang berhenti beroperasi akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Dampak Global Mulai Terasa
Meski Iran membuka sebagian akses jalur energi global, gangguan rantai pasok diperkirakan tidak akan pulih dalam waktu cepat. Proses normalisasi disebut bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Data Bloomberg mencatat, kebutuhan bahan bakar jet global mencapai sekitar 7,8 juta barel per hari pada tahun lalu. Sementara itu, harga bahan bakar jet di Eropa telah melonjak hingga US$1.713,50 per ton atau setara US$215 per barel.
Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional, Willie Walsh, menilai kenaikan harga ini tidak bisa dihindari dan akan dibebankan kepada penumpang.
“Maskapai tidak punya pilihan selain meneruskan kenaikan biaya ini ke konsumen,” ujarnya.
Produksi Turun, Permintaan Naik
Sepanjang Maret, produksi global bahan bakar jet dan kerosin tercatat turun sekitar 600.000 barel per hari atau sekitar 7%. Penurunan ini terjadi di saat permintaan penerbangan justru meningkat menjelang musim liburan.
Situasi ini diperparah dengan prediksi hilangnya sekitar 37 juta barel bahan bakar jet dan kerosin jika Selat Hormuz tidak kembali normal dalam waktu dekat.
Di sisi lain, negara-negara Asia mulai mengambil langkah antisipatif. Korea Selatan mempertimbangkan pengalihan pasokan ekspor ke dalam negeri, sementara Vietnam sudah mengurangi frekuensi penerbangan sejak awal April.
Maskapai Mulai Ambil Langkah Ekstrem
Sejumlah maskapai besar telah melakukan penyesuaian operasional. Vietnam Airlines menghentikan beberapa rute domestik, sedangkan VietJet mengurangi frekuensi penerbangan internasional.
Di kawasan Pasifik, Air New Zealand bahkan membatalkan hingga 1.100 penerbangan domestik. Bandara Sydney juga memperingatkan potensi krisis pasokan bahan bakar dalam waktu dekat.
Sementara itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyebut penghentian operasional pesawat akibat kekurangan bahan bakar menjadi ancaman nyata.
Maskapai Philippine Airlines mengklaim masih memiliki cadangan bahan bakar hingga akhir Juni, namun belum ada kepastian untuk periode setelahnya.
Eropa dan AS Berpotensi Terdampak
Dampak krisis ini diprediksi segera menjalar ke Eropa dalam beberapa minggu ke depan. Wilayah tersebut diketahui sangat bergantung pada impor bahan bakar jet dari kawasan Teluk Persia, yang mencakup sekitar separuh kebutuhan Uni Eropa dan Inggris.
Analis menyebut, jika gangguan berlanjut, biaya penerbangan jarak jauh—terutama rute transatlantik—bisa naik hingga US$300 per penumpang.
Di Amerika Serikat, maskapai juga berisiko menghadapi tekanan serupa. Berbeda dengan maskapai di Eropa dan Asia, banyak operator di AS tidak melakukan lindung nilai harga bahan bakar, sehingga lebih rentan terhadap lonjakan harga.
Krisis Belum Akan Cepat Berakhir
Upaya kilang di Eropa untuk meningkatkan produksi atau mengalihkan output ke bahan bakar jet dinilai belum cukup menutup kekurangan pasokan global.
India yang menjadi salah satu alternatif pemasok juga berpotensi memicu persaingan harga dengan pasar Asia. Bahkan, sejumlah kapal tanker dilaporkan mengubah rute untuk mencari pasar dengan harga lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, para analis memperkirakan krisis avtur ini masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika ketegangan di kawasan Timur Tengah belum mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
- Antrean Truk di Ketapang Mengular 12 Jam, Sopir Keluhkan Layanan
- Kabar Duka Mantan Menhan Juwono Sudarsono Wafat
- Dalam Sepekan Sulawesi Utara Diguncang Puluhan Gempa, Ini Polanya
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Nelayan Bantul Hilang di Muara Opak, Motor Terparkir di Hutan Mangrove
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Volume Surat Menyurat Turun 40 Persen, Ini Strategi Kantor Pos Jogja
- HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
- Ansyari Lubis Minta PSS Sleman Tampil Maksimal Lawan Kendal Tornado
- Tabrakan Maut Lawan Truk Hino di Jalur Jogja-Wonosari, Pemotor Tewas
Advertisement
Advertisement




