Advertisement

Profil Ali Khamenei: Dari Ulama Muda hingga Pemimpin Tertinggi Iran

Sunartono
Minggu, 01 Maret 2026 - 12:07 WIB
Sunartono
Profil Ali Khamenei: Dari Ulama Muda hingga Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei. - Instagram.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Ayatollah Ali Hosseini Khamenei meninggal dunia akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), menimbulkan pukulan besar bagi Republik Islam Iran yang ia pimpin sejak 1989.

Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, Iran, dan sejak muda menekuni pendidikan teologi di Qom, pusat studi ulama Syiah. Ia menjadi tokoh penting dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki, kemudian menjabat Presiden Iran dua periode antara 1981–1989.

Advertisement

Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, pada 1989, posisi Pemimpin Tertinggi sempat kosong. Majelis Ahli (Assembly of Experts), lembaga yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum, bertugas memilih pengganti. Pada saat itu, Khamenei belum menyandang gelar marja’ yang menjadi syarat tradisional untuk menjadi Pemimpin Tertinggi—sehingga konstitusi Iran diubah melalui referendum untuk memungkinkan ulama dengan pengalaman kepemimpinan politik, seperti Khamenei, dipilih.

Majelis Ahli akhirnya memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi pada Juni 1989. Ia memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh penting revolusi dan dianggap mampu melanjutkan visi Khomeini dalam menjaga struktur teokratis Iran. Dalam pidatonya usai terpilih, Khamenei mengaku memiliki banyak kekurangan dan menyadari beratnya tanggung jawab yang diembannya.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memegang kendali penuh atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, penunjukan pejabat kunci termasuk anggota Guardian Council, serta mempengaruhi seluruh cabang pemerintahan. Posisi ini memberinya kekuasaan lebih besar dibanding presiden atau parlemen, menjadikannya figur sentral dalam Republik Islam Iran.

Krisis Terberat

Menjelang serangan yang menewaskannya, Khamenei tengah menghadapi tekanan berat, termasuk negosiasi nuklir dengan AS, ancaman sanksi, dan tekanan militer. Ia juga memerintahkan tindakan keras terhadap protes nasional akibat lonjakan harga kebutuhan pokok, dengan aparat keamanan menembaki massa yang menyerukan “Matilah diktator!”.

Pada Juni lalu, Khamenei sempat bersembunyi selama 12 hari ketika serangan udara Israel dan AS menewaskan sejumlah komandan Garda Revolusi dan menghancurkan fasilitas nuklir serta rudal strategis Iran. Rangkaian eskalasi ini dipicu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, disertai melemahnya Hezbollah di Lebanon dan tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah. Khamenei menolak menghentikan program rudal balistik Iran, memperbesar risiko konfrontasi terbuka.

Penguasa Paling Berpengaruh

Awalnya Khamenei dipandang lemah dan bukan penerus ideal Khomeini karena belum menyandang gelar ayatollah. Namun, ia memperkuat posisinya melalui jaringan aparat keamanan loyal, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Basij, yang menjadi garda depan meredam aksi protes, termasuk gelombang demonstrasi 2009 dan protes pasca kematian Mahsa Amini pada 2022.

Khamenei dikenal curiga terhadap Barat, khususnya AS, namun pernah menerapkan strategi pragmatis bernama “fleksibilitas heroik” pada 2013 untuk kompromi taktis. Hal ini tercermin dalam dukungan hati-hatinya terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015, yang dibatalkan AS pada 2018, sehingga Iran kembali melanggar batasan program nuklir.

Selain kekuatan militer, Khamenei juga menguasai jaringan ekonomi Setad, bernilai puluhan miliar dolar, yang mendukung investasi besar ke Garda Revolusi. Ia pernah selamat dari percobaan pembunuhan pada 1981 dan mengalami penyiksaan berat saat dipenjara pada 1963 di era pemerintahan Shah. Kedekatannya dengan Garda Revolusi diperkuat selama perang Iran-Irak 1980–1988 yang menewaskan sekitar satu juta orang.

Awalnya diragukan, Khamenei kini dianggap salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern Iran. Kematian Khamenei menimbulkan ketidakpastian besar bagi masa depan kepemimpinan dan stabilitas politik Republik Islam, menjadi sorotan dunia internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Musim Hujan, Lampu Jalan di Bantul Dipantau Ketat Saat Lebaran

Musim Hujan, Lampu Jalan di Bantul Dipantau Ketat Saat Lebaran

Bantul
| Minggu, 01 Maret 2026, 14:37 WIB

Advertisement

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Wisata
| Kamis, 26 Februari 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement