Advertisement

Indonesia Bangun Pusat Riset Rumput Laut Dunia di Teluk Ekas NTB

Newswire
Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:57 WIB
Abdul Hamied Razak
Indonesia Bangun Pusat Riset Rumput Laut Dunia di Teluk Ekas NTB Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie dalam kegiatan peletakan batu pertama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis (12/2/2026). ANTARA - HO/Kemdiktisaintek

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesia memperkuat posisinya sebagai pemain utama industri rumput laut global dengan membangun pusat riset bertaraf internasional bernama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di kawasan Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan penguatan riset rumput laut menjadi bagian penting dari strategi nasional sekaligus transformasi ekonomi kawasan pesisir.

Advertisement

Ia menyampaikan, dalam beberapa bulan terakhir pemerintah fokus mendorong Indonesia menjadi pusat rumput laut dunia. Langkah tersebut diwujudkan melalui pembangunan pusat riset dengan standar internasional serta jejaring kolaborasi global.

“Fokus besar kami adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kami membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring global,” ujar Stella melalui keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Pemilihan Teluk Ekas sebagai lokasi ITSRC dinilai strategis karena kawasan tersebut telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik untuk kegiatan perikanan tangkap maupun budi daya. Keberadaan pusat riset ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil tangkapan serta kualitas budi daya melalui pengembangan bibit rumput laut unggul berbasis riset ilmiah.

Stella mengungkapkan, Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia pun mencapai sekitar 12 miliar dolar Amerika Serikat per tahun dan diproyeksikan terus tumbuh.

Meski demikian, posisi dominan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Indonesia, kata Stella, tidak boleh hanya berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi harus menjadi pusat inovasi dan pencipta nilai tambah.

Untuk itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Pemerintah menggandeng sejumlah mitra global, di antaranya University of California, Berkeley serta Beijing Genomics Institute dari China.

Beijing Genomics Institute disebut berkomitmen mendukung pendanaan sebesar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk penyediaan peralatan dan peneliti. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga telah mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan.

Sejumlah fasilitas penunjang akan dibangun di kawasan ITSRC, antara lain gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya.

Dari sisi ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan arus dan sirkulasi air yang baik. Kondisi tersebut menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan biomassa skala tropis.

Selain rumput laut jenis Kappaphycus yang selama ini menjadi bahan baku karagenan, kawasan Teluk Ekas juga memiliki potensi pengembangan jenis lain seperti Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Bekas Galian Pasir Seloharjo Jadi Lokasi Sampah Ilegal di Bantul

Bekas Galian Pasir Seloharjo Jadi Lokasi Sampah Ilegal di Bantul

Bantul
| Sabtu, 14 Februari 2026, 23:17 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement