Advertisement
Trump Buka Peluang Kesepakatan AS-Kuba di Tengah Krisis Kemanusiaan
Donald Trump / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Washington dan Havana memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan guna meredam krisis kemanusiaan di Kuba yang hingga kini belum menunjukkan tanda pemulihan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media pada Minggu, saat kondisi sosial dan ekonomi Kuba terus menjadi sorotan internasional.
Dalam pernyataannya, Trump menilai krisis yang melanda Kuba seharusnya tidak perlu berlarut-larut apabila kedua pihak bersedia membuka ruang dialog. Ia menyebut otoritas Kuba berpotensi mendekati pemerintah Amerika Serikat untuk merumuskan kesepakatan yang memungkinkan situasi di negara tersebut kembali membaik.
Advertisement
“Ini tidak harus menjadi krisis kemanusiaan. Saya pikir mereka (otoritas Kuba) mungkin akan datang kepada kami dan ingin membuat kesepakatan, sehingga Kuba dapat bebas kembali. Mereka akan datang kepada kami, mereka akan membuat kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan.
Selain isu diplomasi, Trump juga menyinggung keinginannya membuka kesempatan bagi warga Amerika Serikat keturunan Kuba agar dapat kembali mengunjungi keluarga mereka di tanah kelahiran. Menurutnya, terdapat banyak warga keturunan Kuba di Amerika Serikat yang berharap dapat menjalin kembali hubungan langsung dengan sanak keluarga di Kuba.
BACA JUGA
“Saya mengenal banyak orang dari Kuba, tetapi saat ini kami memiliki banyak orang di Amerika Serikat yang ingin kembali ke Kuba. Kami ingin mengupayakan hal itu ... Banyak orang yang tinggal di negara kami diperlakukan dengan sangat buruk oleh Kuba, mereka semua memilih saya dan kami ingin mereka diperlakukan dengan baik,” ujar Trump.
Di sisi lain, langkah kebijakan Washington terhadap Havana tetap menunjukkan sikap tegas. Pada Kamis (29/1), Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberikan kewenangan kepada Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif impor terhadap barang-barang dari negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.
Trump juga secara resmi mendeklarasikan keadaan darurat nasional dengan alasan adanya dugaan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat yang berasal dari Havana. Deklarasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan keamanan yang diambil pemerintahannya dalam menyikapi dinamika hubungan bilateral kedua negara.
Sementara itu, Kuba saat ini tengah menghadapi tekanan berat akibat krisis berkepanjangan. Sejumlah wilayah di negara tersebut dilaporkan mengalami pemadaman listrik lebih dari 12 jam, disertai kelangkaan pangan, obat-obatan, serta bahan bakar yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pemerintah berwenang Kuba menyatakan bahwa krisis tersebut tidak terlepas dari sanksi ekonomi Amerika Serikat yang telah diberlakukan selama lebih dari enam dekade. Kebijakan sanksi itu, menurut Havana, menjadi faktor utama memburuknya kondisi ekonomi dan kemanusiaan, meskipun kebijakan tersebut juga menuai kecaman luas dari komunitas internasional dan sejumlah negara sahabat Kuba.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Cek Kesehatan Gratis di DIY Menyasar Karyawan Perusahaan
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- 3.248 Huntara Rampung, Satgas Pacu Rehabilitasi Aceh Jelang Ramadhan
- Akuatik DIY 2025-2030 Resmi Dilantik, Bidik Prestasi Berkelanjutan
- Lonjakan WNI di Kamboja, KBRI Phnom Penh Percepat Pemulangan
- Bulog DIY Bidik Serap 100.000 Ton Gabah Saat Panen Raya 2026
- Serangan Udara Israel Tewaskan 31 Orang di Gaza Jelang Rafah Dibuka
- Harga Pertamax Turun Jadi Rp11.800 per Liter Mulai 1 Februari
- Jadwal Terbaru KRL Jogja-Solo Minggu 1 Februari 2026, Tarif Rp8.000
Advertisement
Advertisement



