Advertisement

Haedar Nashir: Peringatan Isra Miraj Perlu Diterjemahkan Jadi Etika

Newswire
Jum'at, 16 Januari 2026 - 13:07 WIB
Maya Herawati
Haedar Nashir: Peringatan Isra Miraj Perlu Diterjemahkan Jadi Etika Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dok. Ist

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Peringatan Isra Miraj kerap berhenti sebagai seremoni tahunan, padahal momentum ini semestinya menjadi fondasi etika kebangsaan dan penguatan spiritual pribadi. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Isra Miraj harus diaktualisasikan dalam kehidupan warga dan pemimpin bangsa agar melahirkan iman, takwa, serta kesalehan yang membentengi dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pesan itu disampaikan Haedar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026) sebagai refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah/2026 Masehi.

"Isra Miraj merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat di luar nalar manusia pada umumnya," katanya.

Dari peristiwa Isra Miraj, kata Haedar, dapat dijadikan kesempatan untuk membangun relasi ketuhanan oleh warga dan pemimpin bangsa. Sekaligus menguatkan tauhid, iman, dan takwa, sehingga membangkitkan jiwa saleh.

Kesalehan diri diharapkan Haedar menjadi rambu-rambu penghalang bagi manusia ketika muncul hasrat berbuat buruk, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berbuat jahat, perilaku buruk, berkata kasar, dan perbuatan tak pantas lainnya.

“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan, dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” katanya.

Ia mengatakan relasi murakabah merupakan kesadaran spiritual mendalam bahwa seorang hamba merasa terus diawasi.

"Jika relasi ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan pemimpin, diharapkan hasrat untuk berperilaku buruk tidak jadi dilakukan," ujarnya.

Haedar berharap momen Isra Miraj menjadi titik tolak untuk menggali keteladanan Nabi Muhammad. Terlebih saat ini warga bangsa, termasuk umat beragama dan pemimpin atau elit bangsa miskin keteladanan.

“Mari jadikan peringatan Isra Miraj untuk belajar terus menerus menampilkan keteladanan yang otentik,” katanya.

Haedar meminta pemimpin bangsa menjadikan Isra Miraj sebagai cermin untuk berkata dan bertindak yang seksama. Sehingga, warga bangsa menaruh hormat dan percaya, serta membangun rasa memiliki teladan dari pemimpin mereka.

Sementara bagi kalangan elit, Haedar mengajak supaya selaras antara ajaran dengan tindakan, dimana ajaran-ajaran luhur agama tidak boleh retak dengan tindakan, sebab akan merusak kepercayaan.

Haedar menambahkan bahwa kegersangan teladan di tubuh bangsa ini harus diteduhkan, dan tugas para elit setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga.

“Jika peran suasana itu dijalankan, kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” kata Haedar.

Dengan menjadikan Isra Miraj sebagai rujukan nilai, penguatan iman takwa tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi hadir dalam etika publik, keputusan pemimpin, dan perilaku warga, sehingga makna Isra Miraj benar-benar hidup dalam kehidupan kebangsaan.

Advertisement

BACA JUGA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Pemkab Gunungkidul Tertibkan PKL Alun-Alun Wonosari, Pedagang Menolak

Pemkab Gunungkidul Tertibkan PKL Alun-Alun Wonosari, Pedagang Menolak

Gunungkidul
| Jum'at, 16 Januari 2026, 15:17 WIB

Advertisement

Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar

Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar

Wisata
| Jum'at, 16 Januari 2026, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement