Advertisement
Pemerintah Pusat Gulirkan Sekolah Siaga Kependudukan, Ini Tujuannya
Ilustrasi keluarga / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mempersiapkan pembangunan keluarga sejak dini melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
"SSK ini sebenarnya adalah suatu kegiatan yang mengkolaborasikan berbagai macam isu-isu untuk mencegah [dampak negatif] terkait dengan kependudukan," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto dilansir Antara Sabtu.
Advertisement
Hal tersebut disampaikannya saat program Semarak (Sinergi Masyarakat dan Sekolah Wujudkan Kepedulian Kependudukan) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Boja, Kabupaten Kendal, yang merupakan salah satu SSK.
Ia menjelaskan SSK adalah sekolah yang mengintegrasikan materi program Bangga Kencana ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.
BACA JUGA: Rp120 Triliun Uang Masyarakat Raib Gegara Investasi dan Pinjol Ilegal
Strategi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab siswa terhadap kondisi kependudukan dan mengembangkan sikap dan perilaku yang tepat dalam berkontribusi mengatasi permasalahan kependudukan di Indonesia.
Sampai dengan saat ini, kata dia, telah terbentuk 2.326 SSK di seluruh provinsi yang diharapkan semakin berkembang baik secara kuantitas dan kualitas.
"Dengan adanya SSK ini, harapannya anak-anak yang ada di sekolah tersebut terhindar dari berbagai macam, seperti seks bebas, 'bullying', narkoba, perkelahian, terorisme gitu. Dan mereka jadi tahu juga bagaimana mempersiapkan ke depannya," katanya.
Menurut dia, Keluarga Berencana tidak sebatas dimaknai dengan pencegahan kehamilan dengan ber-KB, tetapi mempersiapkan generasi muda sejak dini untuk membangun keluarga dan masa depannya.
"Keluarga Berencana itu bukan hanya KB. Tapi keluarganya disiapkan dari sejak dini. Dari sejak SMP, SMA mereka sudah paham. Misalnya, boleh pacaran tapi enggak boleh yang aneh-aneh gitu. Harus direncanakan. Mereka masih punya masa depan," katanya.
Ia mengatakan bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak selama ini masih kurang sehingga perlu lebih ditingkatkan melalui program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Diakuinya, sosok ayah kebanyakan memang bekerja sehingga terbatas waktunya untuk berkumpul dengan keluarga, terutama anak sehingga sampai muncul kondisi "fatherless".
"Ayah-ayah memang bekerja. Tapi bagaimana sekarang ayah juga ikut berperan walaupun mungkin sedikit. Seperti nganter anak sekolah, ngambil rapor, berdiskusi dengan anaknya gitu. Itu GATI. Kami masukkan juga dalam kegiatan Semarak," katanya.
Kepala SMAN 1 Boja Nurhadi mengatakan bahwa sekolah tersebut meraih juara kedua nasional untuk SSK se-Indonesia. "Kami sudah mengimplementasikan [SSK] dari berbagai sisi, termasuk bagaimana kami menjelaskan di pembelajaran, ekstrakurikuler, kokurikuler, intrakurikuler, semuanya apa itu kependudukan," katanya.
Tak hanya secara tekstual, kata dia, pemahaman seputar isu kependudukan dan pembangunan keluarga juga diberikan secara kontekstual dengan mengajak siswa berpikir secara tepat, memahami persoalan, dan mencarikan solusi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pengolahan Sampah Mandiri Jogja Diperkuat Usai TPST Piyungan Tutup
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- Harga Bapok di Sleman Turun Usai Nataru
- Cuaca DIY Sabtu 10 Januari 2026 Diprediksi Hujan Ringan
- Jadwal KA Bandara YIA-Tugu Jogja Sabtu 10 Januari 2026
- Gol Telat Aramburu Antar Sociedad Taklukkan Getafe 2-1
- Frankfurt vs Dortmund Berakhir Imbang Dramatis 3-3
- Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo Sabtu 10 Januari 2026
- Wrexham Singkirkan Nottingham Forest di Putaran Ketiga Piala FA
Advertisement
Advertisement



