Advertisement

Bos IMF Minta Indonesia Hanya Subsidi Rakyat Miskin Saat Ekonomi Sulit

Wibi Pangestu Pratama
Senin, 18 Juli 2022 - 23:47 WIB
Budi Cahyana
Bos IMF Minta Indonesia Hanya Subsidi Rakyat Miskin Saat Ekonomi Sulit Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva (tengah) bersama Menteri BUMN Erick Thohir (kiri), serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke pusat perbelanjaan Sarinah di Jakarta, Minggu (17/7/2022). - Bisnis/Wibi Pangestu.

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — International Monetary Fund atau IMF meminta Indonesia tidak memberikan subsidi secara umum, karena orang-orang kaya dapat turut menikmatinya. Supaya perekonomian dapat tumbuh optimal di masa sulit, subsidi harus fokus menyasar masyarakat miskin dan rentan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva ketika mengunjungi pusat perbelanjaan Sarinah pada Minggu (17/7/2022). Dia hadir bersama Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno.

Menurutnya, Indonesia berhasil mencatatkan kinerja perekonomian yang baik ketika pandemi Covid-19, tercermin dari catatan pertumbuhan ekonomi yang terjaga positif. Namun, dia menilai bahwa kinerja itu dapat terus meningkat jika terdapat penyaluran subsidi yang lebih baik.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Georgieva menilai bahwa saat ini Indonesia memberikan subsidi secara umum sehingga siapapun bisa menikmatinya. Misalnya, semua orang bisa membeli bahan bakar minyak (BBM) dan liquid petroleum gas (LPG) 3 kilogram bersubsidi, termasuk orang kaya.

"Sangat penting bagi kebijakan fiskal Indonesia untuk tetap fokus dalam memberikan bantuan dengan sasaran yang tepat, bukan dengan memberikan subsidi kepada semua orang, termasuk yang kaya, tetapi fokus kepada mereka yang sangat membutuhkan," ujar Georgieva pada Minggu (17/7/2022).

Menurutnya, penyaluran subsidi yang berlaku umum itu menimbulkan beban anggaran yang terlalu besar. Imbasnya, belanja itu mendorong kenaikan inflasi (push-inflation).

Georgieva pun menilai bahwa kebijakan Indonesia dalam melakukan burden sharing, melalui kerja sama antara pemerintah dengan Bank Indonesia, merupakan langkah yang tepat. Meskipun kebijakan tersebut akan berakhir pada tahun ini, Georgieva menilai bahwa burden sharing efektif untuk menjaga kondisi perekonomian dari tekanan global.

Kemudian, agar perekonomian dapat tumbuh lebih optimal, Georgieva menyarankan Indonesia untuk memperkuat dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Alasannya, Indonesia merupakan market economy, sehingga dukungan terhadap UMKM yang menjadi penyangga perekonomian akan menyelamatkan Indonesia secara keseluruhan.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kualitas Air Sungai di Jogja Semakin Buruk

Jogja
| Kamis, 29 September 2022, 12:47 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement