Advertisement

Cerita Perkampungan di Tengah Kuburan di Semarang

Imam Yuda Saputra
Rabu, 18 Mei 2022 - 19:37 WIB
Budi Cahyana
Cerita Perkampungan di Tengah Kuburan di Semarang Gerbang masuk TPU sekaligus Kampung Bergota Krajan di Kota Semarang. - JIBI/Solopos.com/Adhik Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, SEMARANG—Warga Kampung Bergota Krajan RT 005/RW 005 Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, puluhan tahun warga kampung tersebut tinggal di tengah kuburan.

Bahkan rumah-rumah warga di kampung itu berdempetan dengan makam. Beberapa makam berada persis di depan pintu rumah. Tak hanya itu, terdapat juga toko kelontong hingga warung angkringan yang dikelilingi makam. Potret warga yang beraktivitas dan bocah bermain di permakaman pun menjadi hal yang lumrah.

BACA JUGA: Rumah Warga Gunungkidul Disewa Rp17 Juta untuk Syuting KKN Desa Penari

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Ketua RT 005 Bergota Krajan, Bayu Suprihatin, 32, mengambarkan kondisi jalan TPU Bergota dari pagi hari hingga malam hari masih ramai. Selain itu, lampu-lampu penerangan juga sudah banyak tersedia, membuat kesan horor pun sirna.

“Kalau dibilang horor, bagi orang yang enggak tahu lewat sini atau bukan warga sini pasti iya [horor]. Tapi, bagi masyarakat sekitar biasa saja, soalnya sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan makam,” kata Bayu saat dijumpai Solopos.com di rumahnya, Selasa (17/5/2022).

Kendati demikian, Bayu mengakui sering muncul laporan atau kejadian terkait hal-hal mistis yang menimpa masyarakat, khususnya yang di luar kampung. Mulai dari penampakan, tersesat, hinggga kesurupan.

“Tapi itu kembali ke niat masing-masing orang. Jika baik [niatnya], insyaallah aman. Kalau buruk ya sebaliknya, Makanya, harus sopan. Kalau bisa saat mau keluar atau masuk uluk salam [ucapkan salam] adat Jawa kan begitu,” ujar Bayu.

Bayu pun menceritakan kisah pada 2018 ketika ada kejadian mistis yang menimpa orang dari luar Kampung Bergota Krajan. Orang itu tersesat saat mengendarai sepeda motor dengan panduan GPS. Selain, sepeda motornya mati mendadak.

“Mungkin pakai GPS, nyasar lewat sini, terus berhenti tiba-tiba [mesin motornya]. Bahkan salah satunya ada yang kesurupan, seorang cewek, itu [penanganannya] sampai butuh waktu dua jam dengan bantuan warga sini dan seorang kiai,” jelasnya.

Advertisement

BACA JUGA: Bus Rombongan Takziah Terguling di Gamping, Satu Meninggal

Seorang warga Kampung Bergota Krajan, Sartini, 60, mengaku sebagai warga kampung tersebut tak pernah mengalami kejadian atau peristiwa mistis. Ia pun sudah terbiasa hidup berdampingan dengan kuburan-kuburan yang mengelilingi rumahnya.

“Hal mistis enggak pernah ada, sudah biasa. Keluarga juga enggak pernah ada yang mengalami,” terang ibu enam anak itu.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Mengaku Petugas BLT, Pencuri Gasak Perhiasan Rp105 Juta Milik Warga Minggir Sleman

Sleman
| Senin, 26 September 2022, 13:27 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement