Panen Gugatan, Yusuf Mansur Ajak Dongkrak Indeks Pendidikan Bangsa

Yusuf Mansur - Instagram @yusufmansurnew
11 Januari 2022 22:27 WIB Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, SOLO—Di tengah panen gugatan, pimpinan Ponpes Daarul Quran, Yusuf Mansur, mengajak masyarakat mendongkrak indeks pendidikan bangsa. Ajakan itu dia sampaikan saat menghadiri doa bersama dimulainya pembangunan Masjid Daarul Quran Colomadu, Karanganyar, Senin (10/1/2022).

Yusuf memberikan paparan tentang visinya dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Laki-laki yang lahir pada 19 Desember 1976 itu menyoroti rendahnya indeks pendidikan di Indonesia.

BACA JUGA: Yusuf Mansur Tanggapi Kabar Miring Soal Investasi: Saya Enggak Tiarap

“Kita dihadapkan fakta indeks pendidikan di Tanah Air rendah. Kalau kita ngomong sama orang Eropa kayak enggak apple to apple. Karena di sana jumlah penduduk negaranya enggak banyak. Tapi seharusnya tak menjadi alasan,” ujar dia.

Yusuf lantas bercerita tentang tingkat pendidikan penduduk di negara-negara Eropa didominasi jenjang S1 atau sarjana. Dia mencontohkan tingkat pendidikan penduduk di Negara Hongaria di mana 90 persennya sudah sarjana.

“Polandia juga. Apalagi kawasan Eropa Timur pemenang hadiah nobel itu enggak karuan banyaknya. Kita belum pernah mencatatkan diri sebagai kandidat pun saya rasa belum. Apalagi menang penghargaan Nobel,” sambung dia.

Di sisi lain menurut Yusuf Mansur penduduk Indonesia tingkat pendidikannya didominasi jenjang SD, SMP dan SMA. Selain strata pendidikan formal, dia juga menilai skill atau keahlian penduduk Indonesia kalah jauh dari negara lain.

“Harga tenaga kerja kita dibandingkan negara yang baru merdeka, Vietnam misalnya, jauh sekali. Harga suster kita, sama-sama di Saudi, malah kita punya suster bisa ngaji, bisa ngajarin ngaji, gajinya tiga kali dibawah negara lain,” urai dia.

Fenomena itu menurut Yusuf Mansur menjadi tantangan yang harus dijawab keluarga besar Ponpes Daarul Quran di penjuru negeri ini. Tidak hanya Ponpes Daarul Quran, dia menekankan pentingnya andil berbagai ponpes di negeri ini.

Yusuf menilai rendahnya indeks pendidikan di Tanah Air bisa diselesaikan kurang dari lima tahun bila semua bergerak dan berdisiplin. “Kalau start dari data dan fakta hari ini, sesungguhnya bisa kita selesaikan kurang lima tahun,” kata dia.

Apalagi belakangan Kemendikbud menurut Yusuf telah mendukung sepenuhnya pembenahan sektor pendidikan nasional dengan mengeluarkan Permendikbud barunya. Regulasi itu menurut dia harus disambut keluarga besar Daarul Quran.

“Daarul Quran pusat dua bulan lagi melahirkan 20 perguruan tinggi baru. Enggak tanggung-tanggung nih. Kami lagi ngajuin, dipanggil diundang, kami ngadep, diskusi, dan senang sekali. Wah ini nih yang dicari. Ini nih yang dicari,” terang dia.

Selain itu Yusuf menilai keberadaan 9000 an rumah tahfidz di Tanah Air dan 1.500 rumah tahfidz diantaranya memakai nama Daarul Quran, akan sangat membantu upaya peningkatan indeks atau strata pendidikan penduduk Indonesia.

Yusuf Mansur menyoroti tentang persoalan besar bangsa Indonesia saat ini selain pendidikan, yaitu kemiskinan. Untuk persoalan itu dia mendorong penyelesaiannya dengan pendekatan keilmuan atau pendidikan.

BACA JUGA: Yusuf Mansyur Bantah Bawa Kabur Uang Sedekah: Jika Pernah, Saya Berhenti Jadi Ustaz

Apalagi Kemendikbud belum lama ini membentuk Ditjen Vokasi yang dinilai Yusuf bisa menjadi jawaban atas persoalan itu. Bila dulu bidang itu ditempatkan di halaman belakang yang tidak pernah diperhitungkan, sekarang berbeda.

“Dua tahun lalu lahir Ditjen Vokasi. Wajah SMK dan politeknik mendadak berubah. Tadinya di halaman belakang enggak punya orang tua, sekarang ada di halaman depan siap sambut garda seluruh proyek infrastruktur,” urai dia.

Yusuf mengajak semua pihak memanfaatkan peluang itu agar bangsa Indonesia siap menghadapi tantangan zaman. “Sekali jalan indeks pendidikan naik, kemiskinan turun. Yakin saya karena pendidikan satu ini wes terserah,” kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos