Advertisement
Satgas Covid-19 Optimistis Cegah Kenaikan Kasus Usai Libur Nataru
Sejumlah murid mengukur suhu tubuhnya sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SDN Lenteng Agung 07, Jakarta, Senin (27/9/2021). Pemprov DKI Jakarta mulai menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) tahap dua di 1.509 sekolah pada Senin (27/9), dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat di masa PPKM. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso - pras.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Angka tingkat kepatuhan penerapan protokol kesehatan (prokes) di Indonesia pada Desember ini memiliki dua mata pisau.
Di satu sisi, Satgas Penanganan Covid-19 BNPB menilai kepatuhan masyarakat masih lebih baik dibandingkan periode natal dan tahun baru (nataru) tahun lalu.
Advertisement
Situasi tersebut membuat Satgas optimistis lonjakan kasus seperti pada periode nataru sebelumnya dapat dihindari.
"Kami memiliki data dashboard monitor, kepatuhan memakai masker, mencuci tangan di Desember 2021 lebih baik dari Desember 2020. Itu kabar baiknya," kata Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Sonny B Harmadi dalam diskusi daring Sabtu (18/12/2021).
Namun, Satgas juga was-was mengingat angka kepatuhan pada Desember sebenarnya menurun secara bulanan.
Terhitung hingga 12 Desember, tingkat kepatuhan berada pada skor 7,7 dari 10. Angka ini terus menurun dibandingkan tingkat kepatuhan 8,3 pada Oktober dan 7,9 pada November 2021.
"Pada Desember 2021 tingkat kepatuhan lebih buruk daripada November 2021. November 2021 juga lebih buruk daripada Oktober 2021. Jadi kita sebelumnya dari Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, membaik tapi di November mulai turun."
BNPB melihat adanya kecenderungan masyarakat mulai lengah lantaran membaca data-data penularan kasus dan tingkat hunian rumah sakit yang rendah.
"Salah satunya karena persepsi risiko penularan yang menurun. Kita lihat angka penularan hariannya turun selama 155 hari sejak puncak kasus, dengan positivity rate yang sudah rendah."
Untuk itu, BNPB lagi-lagi mengingatkan agar masyarakat kembali menyadari potensi lonjakan kasus. Terutama berkaca dari negara-negara lain yang tengah kelimpungan menghadapi Omicron.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Longsor dan Pergerakan Tanah Terjang Tiga Kecamatan di Bogor
- Delapan Tahun Terjerat Judi Online, Erwin Kehilangan Rp800 Juta
- Ketegangan AS-Iran Meningkat, Trump Pertimbangkan Aksi Militer
- IDAI Ungkap PHBS Jadi Benteng Utama Hadapi Virus Nipah
- Antisipasi Virus Nipah, Singapura Perketat Pemeriksaan di Changi
Advertisement
Investasi di Piyungan Bantul Tak Seimbang, Ini Penjelasannya
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Isu Iuran BPJS Guru ASN 26 Kali Setahun Dipastikan Tidak Benar
- Lonjakan PAD Wisata Awal 2026 Dorong Target Rp60 Miliar di Gunungkidul
- Harga Sayuran di Bantul Anjlok saat Panen Raya, Pedagang Mengeluh
- Dirut Mundur, OJK Pastikan BEI Tetap Stabil
- Galon Bekas dan Biopori Tekan Sampah Warungboto Jogja hingga 50 Persen
- 13 Calon Petugas Haji Dicopot saat Diklat PPIH, Ini Alasannya
- Pemkab Bantul Bebaskan Pajak LP2B dan Siapkan Seragam Gratis di 2026
Advertisement
Advertisement



