Aqua Dwipayana Ingatkan Guru Harus Bahagia untuk Bisa Membahagiakan

Aqua Dwipayana saat berfoto bersama. - Ist.
29 November 2021 14:17 WIB Media Digital News Share :

Dalam suasana peringatan Hari Guru Nasional, Motivator Nasional dan Pakar Komunikasi DAqua Dwipayana mengajak semua guru dan insan pendidikan untuk menjadi pendidik bangsa yang bahagia dan membahagiakan. Dengan hidup bahagia maka para pendidik juga akan mendorong seluruh siswa mereka untuk dapat menggapai kebahagiaan dalam hidup.

Doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tersebut menyampaikan hal itu pada Sharing Komunikasi dan Motivasi bertajuk “Menjadi Pendidik Bahagia dan Membahagiakan” di hadapan sekitar 100 orang guru PAUD, TK, SD, dan SMP serta pegawai Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat Yogyakarta di Hotel Burza Jogokariyan Yogyakarta pada Jumat (26/11/2021).

Menurut pria santun dan murah senyum dengan jejaring pertemanan sangat luas tersebut, untuk mewujudkan pendidik yang bahagia itu sederhana dan mudah sekali. Apalagi kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang.

"Kabar baiknya untuk membuat bahagia itu tidak memerlukan hal yang ekstra karena ada dalam diri setiap orang. Jadi tergantung masing-masing individu. Semua orang bisa bahagia asal ada kemauan yang kuat dari dirinya dan berusaha secara maksimal untuk mewujudkannya," jelas Dr Aqua.

Agar dapat bahagia menurutnya setiap orang dapat melaksanakan dua hal secara konsisten. Hal itu gampang diucapkan dan sangat bisa dilaksanakan.

Pertama, mensyukuri semua yang telah diperoleh termasuk berprofesi sebagai guru. Itu sebagai wujud berterima kasih kepada Tuhan.

Salah satu upaya untuk selalu bersyukur adalah dengan sering melihat ke bawah. Maksudnya memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang hidupnya kurang beruntung termasuk dari sisi ekonomi.

Sebagai guru yang profesinya sangat mulia, ungkap Dr Aqua, harus banyak bersyukur karena Allah Swt telah memberi banyak rezeki. Itu terutama dirasakan selama pandemi Covid-19 ini.

Rasa syukur yang pertama karena sampai sekarang tetap sehat. Kalaupun ada yang pernah terpapar Covid-19, kemudian sembuh, harus lebih bersyukur lagi.

Saat pandemi Covid-19 ini banyak orang baru merasakan betapa mahalnya kesehatan tersebut. Apalagi jika ada di antara mereka yang keluarganya terpapar Covid-19 dan meninggal.

Rasa syukur kedua tetap bekerja selama pandemi Covid-19. Lebih dari 30 juta orang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan, dan gajinya dipotong. Namun para guru tidak mengalami itu.

Bahkan selama pandemi Covid-19 banyak orang tua yang baru menyadari betapa tidak mudah menjadi guru. Itu saat mereka mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

"Banyak orang tua terutama ibu-ibu yang menyampaikan curahan hatinya kepada saya. Mereka kesulitan mengajari anak-anaknya di rumah saat pandemi Covid-19. Mereka baru menyadari bahwa menjadi guru itu tidak mudah. Semoga hal tersebut membuat mereka lebih menghargai profesi guru," ujarnya.

Rasa syukur ketiga bekerja di institusi yang kredibel. Bertugas di sekolah yang amanah di dunia dan secara universal dihormati semua orang. Umumnya orang respek sama guru.

"Saat ketemu sama siapa pun termasuk  di luar negeri, begitu dia tahu profesi orang yang ditemui adalah guru, mereka pasti hormat dan sangat menghargai. Karena di setiap negara ada guru dan pekerjaan ini dihormati," terang Dr Aqua.

Rasa syukur keempat adalah mengajarkan adab dan ilmu. Khusus di Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat para guru kepada semua siswanya mengajarkan adab dan ilmu. Tidak hanya ilmu duniawi tetapi juga yang terkait dengan akhirat.

Tidak semua sekolah mengajarkan seperti itu. Sebagian lembaga pendidikan ada yang memprioritaskan dan menekankan pada ilmu dibandingkan adab. Hal tersebut sesuai dengan kebijakan masing-masing institusi.

Rasa syukur kelima adalah bekerja sebagai guru di Yogyakarta. Kota yang menjadi dambaan banyak orang karena berbagai keistimewaannya.

"Banyaklah bersyukur bekerja di Yogyakarta. Daerah yang menjadi impian banyak orang termasuk saya," katanya 

Cara kedua untuk bahagia, papar pria yang telah mengumrohkan ratusan orang ini adalah selalu bersikap ikhlas. Dengan sikap itu sama sekali tidak ada beban melakukan pekerjaan sebagai guru. Bahkan senang karena bisa mencerdaskan banyak orang.

 

"Bersikap ikhlas itu sama sekali tidak ada ruginya. Untungnya banyak sekali dan pengaruhnya sangat besar untuk membuat diri bahagia," tegas Dr Aqua.

Pehobi silaturahim ini telah membuktikan sendiri semua yang diucapkannya baik bersyukur maupun selalu bersikap ikhlas. Kemudian konsisten melaksanakannya.

Salah satu wujud bersyukurnya adalah melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi secara gratis. Padahal tarifnya sebagai pembicara termasuk mahal. Meski begitu Dr Aqua banyak menggratiskan kegiatan berbaginya termasuk kepada para pegawai Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat Yogyakarta.

Selain itu Dr Aqua sejak lama ikhlas membagikan hartanya pada banyak orang yang membutuhkannya. Wujudnya beragam baik dengan memberikan langsung maupun mengumrohkan ratusan orang dan membantu dalam bentuk lainnya.

"Berbagi rezeki banyak sekali manfaatnya. Untuk itu jangan pernah ragu melakukannya termasuk pada orang yang tidak dikenal," pesan Dr Aqua.

Jika para guru sudah bahagia menurut pria yang dermawan ini akan lebih mudah membahagiakan banyak orang termasuk semua siswanya. Sebab telah lebih dulu merasakan kebahagiaan itu.

“Kebahagiaan hidup seseorang tergantung pada pola pikir dan pola sikap. “Service mindset" adalah kunci utama megambil hati setiap orang. Oleh karena setiap unsur sumber daya manusia dalam institusi apapun harus mampu melayani dengan hati. Setiap orang yang menjalankannya maka akan memiliki kepuasan tersendiri terhadap pekerjaan melebihi dari upah yang diterimanya,” kata Dr Aqua.

Lebih jauh motivator laris itu menguraikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kalangan guru selalu merasa bahagia. “Jalanilah profesi ini dengan ikhlas dan diniatkan dengan lurus, kurangi beban administari. Kemudian, miliki waktu untuk menyenangkan diri misalnya dengan menjalani hobi dan aktivitas menyenangkan sebagai selingan di tengah beban profesi kita,” ungkapnya.