Advertisement
Mendag Incar Peningkatan Ekspor Fesyen Muslim 10 Kali Lipat
Buruh memproduksi baju koko (baju muslim) di pabrik garmen Jaya Manunggal, Karangjati, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/6). - Antara/Aditya Pradana Putra
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengharapkan nilai industri fesyen muslim Indonesia bisa meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan. Ekspor diharapkan meningkat 10 kali lipat, seiring dengan inisiasi untuk meningkatkan potensi sektor ini.
Mengutip laporan State of Global Islamic Economy, Lutfi mengatakan nilai pasar fesyen muslim Indonesia bernilai US$16 miliar. Nilai tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima pasar fesyen muslim terbesar, terlepas dari status sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia.
Advertisement
“Bisa dibayangkan kita sekarang kita pasar fesyen muslim nomor 5 dunia, dengan nilai US$16 miliar. Menurut saya mestinya bisa jauh lebih besar karena Iran yang penduduknya 110 juta orang saja industri fesyen muslim sudah melampaui US$53 miliar,” kata Lutfi dalam konferensi pers Kick Off Embracing Jakarta Muslim Fashion Week, Kamis (11/11/2021).
Selain berada di bawah Iran, nilai pasar fesyen muslim Indonesia juga lebih kecil dibandingkan dengan Turki yang menyentuh Turki US$28 miliar, Arab Saudi dengan US$21 miliar, dan Pakistan US$20 miliar.
Nilai ekspor fesyen muslim Indonesia juga baru bernilai US$500 juta. Sementara status eksportir terbesar dipegang oleh China dengan nilai US$11,5 miliar.
Dengan nilai ekspor produk garmen yang berkisar US$11 miliar setiap tahunnya, Lutfi mengatakan masih banyak ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan performa fesyen muslim. Jakarta Muslim Fashion Week yang rencananya digelar pada Oktober 2022 diharapkan menjadi momentum bagi pemangku kepentingan di sektor ini untuk berkolaborasi.
“Bayangan saya dalam 5 tahun kita bisa meningkatkan dua kali lipat nilai industri fesyen muslim dari US$16 miliar menjadi US$32 miliar. Lalu ekspor hanya US$500 juta bisa 10 kali lipat dalam 4 tahun itu mestinya sesuatu yang bisa kita dapatkan,” katanya.
Wakil Ketua Komite Promosi Fesyen Muslim dari Kadin Indonesia Anne Patricia Sutanto mengatakan kinerja industri fesyen muslim Indonesia yang belum optimal terjadi karena ekosistem yang mendukung. Meski demikian, dia meyakini Jakarta Muslim Fashion Week bisa menjadi aggregator potensi dari hulu ke hilir.
“Kami merasa dengan kearifan lokal dan expert dari dunia akademis, desainer, dari pemangku kepentingan dari hulu ke hilir, kami merasa tren fesyen muslim global harus dimulai dari Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar,” kata Anne.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Akhir Pekan Jadi Waktu Favorit Wisatawan Kunjungi Kawasan Kaliurang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Intelijen AS: Iran Kian Kuat di Tengah Serangan AS-Israel
- Arus Mudik Kulonprogo 2026 Lancar, Pemudik Lebih Memilih Jalur Utara
- Kunjungi Pasar Beringharjo Jogja, Ini Kata Menkeu Purbaya
- Arus Pantura Cirebon H-4 Lebaran 2026 Meningkat Tajam
- Pemerintah Kaji WFH untuk Tekan Konsumsi BBM 2026
- Sampah Lebaran Diprediksi Naik 20 Persen, DLH Jogja Siapkan Strategi
- Iran Serang Israel dan Pangkalan AS, Konflik Kian Memanas
Advertisement
Advertisement








