Survei Indikator: Korupsi & Krisis Lingkungan Jadi Sumber Kegelisahan Generasi Muda

Ilustrasi kebakaran hutan. - Markhart via Reuters
27 Oktober 2021 17:27 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Direktur Indikator Politik Burhanudin Muhtadi mengungkapkan mayoritas generasi muda mengkhawatirkan isu krisis lingkungan dan perubahan iklim.

Menurut dia, isu korupsi memang menempati posisi paling tinggi di kalangan anak muda, tapi, isu kerusakan lingkungan kepedulian generasi muda sangat besar.

“Ada 64 persen anak muda yang sangat khawatir masalah korupsi, agak khawatir 21 persen, dan sedikit khawatir 8 persen. Sedangkan, sangat khawatir terhadap kerusakan lingkungan 52 persen, agak khawatir 30 persen, dan sedikit khawatir 13 persen,” ujar Burhanudin dalam rilis ruvei secara daring ‘Persepsi Pemilih Pemula dan Muda (Gen Z dan Milenial) atas Permasalahan Krisis Iklim di Indonesia’, Rabu (27/10/2021).

Burhanudin mengatakan dalam survei umum mayoritas masyarakat memilih isu ekonomi yang dikhawatirkan. Namun, saat survei khusus generasi muda, isu korupsi dan kerusakan lingkungan menjadi isu yang menjadi perhatian utama.

“Ini harus ditangkap oleh politisi kita, karena ada perubahan demografi yang luar biasa terhadap sikap dan attitude mereka terhadap isu-isu penting bagi anak muda,” pungkasnya.

Survei sendiri dilakukan pada 9-16 September 2021. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang sudah berumur 17 tahun hingga 35 tahun Ketika survei dilakukan. Penarikan sample menggunakan metode stratified multistage random sampling. 

Dalam survei ini jumlah survei sebanyak 4020 responden  yang terdiri atas 3216 responden usia 17-26 tahun, memiliki toleransi kesalahan (margin of error) kurang-lebih 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sedangkan  804 responden usia 27-35 tahun memiliki toleransi kesalahan kurang lebih 3.5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 3623 responden atau  90,1 persen. Penggantian responden dilakukan dengan pengacakan ulang.

Sumber : JIBI/Bisnis.com