Ini Profil Pelita Air, Maskapai yang Bakal Gantikan Garuda (GIAA)

Helikopter Sikorsky milik Pelita Air. - pelita/air.com
21 Oktober 2021 18:47 WIB Rahmi Yati News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — PT Pelita Air Service (PAS), maskapai penerbangan milik PT Pertamina (Persero) direncanakan akan melayani penerbangan berjadwal menggantikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. atau GIAA.

Selama ini, maskapai yang dipimpin Albert Burhan ini merupakan maskapai charter dengan pengalaman di sektor minyak dan gas serta government special mission dengan sedikit histori terbang berjadwal.

Namun usai mengangkat Albert untuk mengisi posisi Direktur Utama yang telah kosong selama 2 tahun pada awal Oktober lalu, Pelita Air mengajukan izin penerbangan berjadwal ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Maskapai ini pun santer dikabarkan bakal mengambil alih penerbangan domestik Garuda.

BACA JUGA: 7 Tahun Jokowi Jadi Presiden: BEM SI Nilai Jokowi Mengkhianati Rakyat

Albert bukanlah sosok asing di dunia penerbangan. Dia merupakan mantan Direktur Utama Citilink Indonesia dan pernah memiliki karier panjang di Garuda Indonesia.

Dikutip dari website resminya, pendirian Pelita Air berawal dari kebutuhan Pertamina untuk mendukung kegiatan eksplorasi, eksploitasi, kargo, serta transportasi migas dan/atau personel. Awalnya pada 1963, Pertamina membuat departemen layanan udara yang disebut Pertamina Air Service.

Pada 1970 atau 7 tahun setelahnya, Pertamina menutup departemen layanan udara dan sebagai gantinya mendirikan PT Pelita Air Service (PAS), anak perusahaan otonom untuk menyediakan operasi penerbangan berkelanjutan.

Maskapai ini kemudian diberi misi melakukan operasi penerbangan untuk melayani dan mengkoordinasikan operasi penerbangan secara ekonomis dalam industri migas di Indonesia melalui penerbangan charter dan kegiatan terkait. Termasuk kegiatan transmigrasi, pemadam kebakaran, pengungsi, palang merah, tumpahan minyak, foto udara, transportasi kargo.

Selanjutnya, layanan Pelita Air diperluas ke penerbangan untuk VVIP, lepas pantai, evakuasi medis, operasi seismik, survei geologi, helirig, pilot helikopter untuk disewa, dukungan dan pelatihan.

Selama beberapa dekade, Pelita Air melayani jasa penerbangan bagi beberapa perusahaan migas di Indonesia, baik perusahaan asing maupun domestik.


CASA 212-200 adalah satu pesawat carter yang digunakan Pelita Air. /pelita-air.com

Pada 2000 sampai 2005, Pelita Air pernah mencoba berbisnis penerbangan reguler untuk banyak rute. Namun agar lebih fokus pada bisnis utamanya, Pelita Air memutuskan untuk berkonsentrasi pada charter penerbangan udara. Penerbangan reguler ditutup pada 2005.

Pelita Air Service memiliki anak usaha di bidang pemeliharaan dan perbaikan pesawat, yakni PT IndoPelita Aircraft Services. Selain itu, Pelita Air juga memiliki lapangan terbang secara eksklusif di Pondok Cabe, Jakarta Selatan, yang terdiri dari hanggar, gudang dan landasan pacu sepanjang 2.000 meter.

Pelita Air Service mengoperasikan beberapa armada antara lain pesawat rotary wing dan fixed wing untuk melewati seluruh medan Indonesia. Diantaranya, ATR 42-500, ATR 72-500, CASA 212-200, AT 802, Bell 412 EP, Bolkow NBO-105, Sikorsky S76 C++, Sikorsky S76-A, Bell 430.

Berdiri dengan sejarah berdasarkan eksplorasi dan eksploitasi ladang minyak dan gas alam, Pelita Air berkomitmen untuk memberikan layanan luas yang memenangkan penghargaan.


ATR 42-500. /pelita-air.com

Maskapai ini mencatatkan 37.884 jam terbang tercatat (2014-2017), memiliki lima Stasiun Pangkalan (2017), 15 sayap putar (Helikopter), 9 sayap tetap, dan 1 angkutan BBM di Papua (+150 Kl per bulan)

Di bidang pelatihan, Pelita Air menyediakan lebih dari 30 jenis pelatihan dalam penerbangan dan turbin industri, mengadakan 200 in class training untuk 1.990 orang pada 2017, memiliki 7 Sertifikasi yang sedang berjalan dari Dirjen Perhubungan Udara (DJP), dan 3 sertifikasi nasional & 3 sertifikasi internasional dalam proses persetujuan.

Pelita Air juga memiliki bagian pemeliharaan, perbaikan dan overhaul untuk pesawat terbang serta layanan industri. Layanan lainnya, mengelola dan mengoperasikan 3 bandara Pertamina (2017) dan 1 pusat logistik berikat.

Sumber : Bisnis.com