Vaksin Ebola Bundibugyo Masuk Uji Klinis Fase 1 di Oxford
Universitas Oxford memulai uji klinis fase 1 vaksin Ebola Bundibugyo yang dikembangkan dalam 57 hari sejak wabah dinyatakan.
Ilustrasi - mashable.com
Harianjogja.com, JAKARTA - Pengalaman buruk sekaligus menakutkan dialami nenek berusia 66 tahun bernama Ruth Hamilton di Kanada.
Tanpa diduga, sebuah batu meteorit besar jatuh dari luar angkasa, melalui atapnya dan mendarat di tempat tidurnya.
Penduduk Golden, British Columbia itu, terbangun karena suara hantaman dan anjingnya menggonggong. Kejadian itu, mengutip NPR terjadi pada 3 Oktober 2021 lalu sekitar 11.35 malam waktu setempat.
"Saya tidak pernah begitu takut dalam hidup saya. Dan saya tidak yakin apa yang harus saya lakukan, jadi saya menelepon 911 dan, ketika saya berbicara dengan operator, saya membalik bantal saya dan melihat ada batu yang tergelincir di antara dua bantal." ujarnya dilansir dari NPR.
Untungnya, batu tersebut tidak mengenai tubuhnya sehingga dia bisa selamat. Hanya saja banyak berserakan puing-puing di wajah dan tubuhnya akibat hantaman meteor tersebut.
Seorang petugas polisi tiba di tempat kejadian, tetapi menduga benda yang mendarat di tempat tidur Hamilton berasal dari lokasi konstruksi terdekat.
"Dia menelepon [situs konstruksi] dan mereka mengatakan mereka tidak melakukan ledakan tetapi mereka telah melihat ledakan di langit dan, saat itu juga, kami menyadari itu adalah meteorit," katanya
Ternyata batu luar angkasa seberat 2,8 pon, seukuran kubis kecil itu, adalah bagian dari hujan meteor yang diidentifikasi oleh Alan Hildebrand, seorang ilmuwan planet di Departemen Geosains di Universitas Calgary, dan rekan-rekannya. Kelompok itu mengatakan lintasan meteorit yang menabrak rumah Hamilton akan membuatnya terlihat di seluruh British Columbia tenggara dan Alberta tengah dan selatan.
Hamilton mengaku shock setelah kejadian tersebut.
Peter Brown, seorang profesor dan Ketua Penelitian Kanada di benda-benda kecil planet mengatakan bahwa itu "sangat penting dalam melacak asal usul meteor ini, dan dengan mengetahui asal-usulnya, kita akan memiliki peluang yang jauh lebih baik untuk menceritakan kisah lengkap tentang peristiwa astronomi yang luar biasa ini."
Setelah pengalamannya yang mengejutkan, Hamilton menyerahkan meteorit itu kepada para ilmuwan untuk dipelajari, tetapi mengatakan kepada The New York Times bahwa ketika mereka selesai dengan itu, dia ingin menyimpannya sebagai semacam jimat keberuntungan.
Tetapi jika dia memutuskan untuk menjualnya, meteorit itu mungkin memiliki harga yang cukup tinggi, menurut Mendy Ouzillou, anggota The Meteoritical Society, yang juga mengawasi beberapa situs penggemar di Facebook dan memiliki Skyfall Meteorites.
Dia memperkirakan objek itu bisa dijual seharga US$40 hingga US$100 per gram, sehingga total harga batu itu bisa mencapai US$50.000 hingga US$127.000.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Universitas Oxford memulai uji klinis fase 1 vaksin Ebola Bundibugyo yang dikembangkan dalam 57 hari sejak wabah dinyatakan.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi Sabtu siang. Kolom abu mencapai 400 meter dan nelayan serta wisatawan diminta menjauh 2 kilometer.
Video mahasiswa baru ISI Solo berjoget di Pendopo Ageng viral. Kampus meminta maaf dan menyiapkan edukasi etika serta wawasan budaya.
PSS Sleman masih membuka peluang meminjamkan pemain ke Liga 2 dan merekrut pemain muda baru sesuai gaya permainan tim.
PLTS 30 GW segera dilelang pada 2026 sebagai tahap awal target 100 GW. Investor masih menghadapi tantangan jaringan, regulasi, dan pembiayaan.
Karhutla Riau mencapai 16.264 hektare. Pemprov Riau menyemai 26 ton garam lewat OMC dan mengerahkan enam helikopter.