Positivity Rate di Jakarta Lebih Rendah Dibanding New York dan Mumbai

Warga menyeberang jalan saat jam pulang kerja di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (24/6/2021). Presiden Joko Widodo menjelaskan alasan pemerintah mengambil kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Mikro dibandingkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali atau lockdown (karantina wilayah) salah satunya karena pertimbangan faktor ekonomi. - Antara
05 September 2021 19:17 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat ini sering muncul pertanyaan di masyarakat mengenai korelasi antara kepadatan penduduk yang tinggi dan penyebaran Covid-19. Apakah artinya kepadatan penduduk yang lebih rendah berarti penularannya juga lebih rendah?

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubair Djoerban menyebut korelasi ini terlihat seperti tuduhan yang masuk akal, tetapi bila dilihat lebih rinci kepadatan penduduk belum tentu rentan terhadap penyebaran Covid-19.

“Tampaknya hal itu seperti "tuduhan" masuk akal. Tapi, kalau lihat lebih rinci, kepadatan penduduk yang tinggi belum tentu rentan juga. Contoh Mumbai dan New York. Kondisinya kan berbeda dengan Seoul, Hanoi, bahkan Jakarta—yang juga punya kepadatan yang agak mirip,” ujar Zubairi lewat akun Twitternya @ProfesorZubairi, Minggu (5/9/2021).

Dikatakannya, memang betul interaksi sosial di kota-kota besar dan padat cukup tinggi berakibat orang di kota itu bisa melakukan kontak dengan banyak orang. Namun, jika melihat Jakarta dan Hanoi yang jumlah penduduknya relatif padat, justru mempunyai positivity rate yang relatif rendah.

Prof.Zubairi menyimpulkan kepadatan penduduk yang tinggi bukan satu-satunya penyebab tingginya kasus Covid-19. Penyebaran infeksi juga dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, pendidikan, keseriusan menangani pandemi seperti kesadaran memakai masker, dan kesiapan sistem serta fasilitas kesehatan di kota tersebut.

“Jadi, kepadatan penduduk tak melulu berkorelasi dengan tingginya penyebaran. Itu lebih kepada seberapa serius Covid-19 ditangani. Lewat kebijakan, komunikasi, pengujian, pelacakan, termasuk pemakaian masker secara ekstensif. Komponen-komponen itu yang bikin Covid-19 terkendali,” tutup Zubairi.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 3,9 persen, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 14,6 persen. WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5 persen. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia