Nakes Mulai Lelah Fisik dan Mental, Ini Pesan PPNI untuk Masyarakat

Sebuah kalimat penyemangat tertulis di hazmat salah satu tenaga kesehatan di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1/2021). - Antara
04 Agustus 2021 16:27 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Para tenaga kesehatan mulai mengalami kelelahan fisik dan mental menyusul penambahan kasus virus Corona yang terus terjadi saban hari. Alhasil, banyak perawat yang terkonfirmasi positif Covid-19 sehingga jumlah perawat yang aktif melayani pasien pun juga berkurang. Pada saat kasus sedang tinggi, rumah sakit pun harus meningkatkan pelayanan.

"Rumah sakit harus menambah ruang perawatan, UGD, ruang observasi yang biasanya dibawah 10 jadi di atas 30, padahal tenaga perawat tidak serta merta ditambah," ujar Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah mengutip keterangan resmi KPCPEN, Rabu (4/8/2021).

BACA JUGA : Ratusan Nakes di Kota Jogja Terpapar Covid-19

Menurutnya, saat ini dengan Covid-19 varian Delta dan meningkatnya jumlah kematian tenaga kesehatan sedikit banyak menambah kekhawatiran. Apalagi, di antaranya juga menangani rekan sendiri yang terpapar dan akhirnya wafat. "Ini tantangan tersendiri," katanya.

Meski begitu, Harif memastikan, dengan semakin banyak informasi soal karakteristik Covid-19, cara pencegahan, dan peralatan seperti Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai membuat tenaga kesehatan lebih siap untuk menghadapi pandemi.

"Kalau saya melihat dan berbicara dengan teman-teman perawat di lapangan, tidak seperti di awal pandemi yang APD saja masih amat terbatas. Saat ini sudah terorientasi dalam kondisi pandemi, baik diri sendiri maupun keluarga," papar Harif.

Kemudian cakupan vaksinasi tenaga kesehatan dalam dosis pertama dan kedua yang mencapai target menunjukkan bahwa kesadaran untuk melindungi diri tinggi. Adapun, vaksin dosis ketiga, dia menilai, secara umum dibutuhkan sebagai tambahan penguat diri.

BACA JUGA : Nakes RSPS Bantul Meninggal, 130 Orang Isoman

Pasalnya, imbuh Harif, dalam kondisi saat ini dengan banyaknya orang yang terkonfirmasi baik tanpa gejala maupun dengan gejala memberikan risiko bagi tenaga kesehatan. Selain itu, tenaga kesehatan juga bekerja untuk menangani pasien Covid-19 yang jumlah pasien banyak sehingga beban semakin tinggi.

"Untuk itu perlu penguatan daya tahan salah satunya dengan vaksin," katanya.

Dia berpendapat, soal Covid-19 itu ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, terkait adanya virus, lingkungan, dan daya tahan tubuh.

“Saat ini varian virusnya makin ganas, lingkungan makin banyak yang terpapar, dan daya tahan berkurang karena tenaga kesehatan kelelahan menangani pasien yang meningkat baik secara fisik maupun mental. Untuk itu peningkatan antibodi perlu dilakukan," tambahnya.

Terkait dukungan lainnya yang dibutuhkan untuk menghadapi pandemi, Harif menilai penambahan tenaga kesehatan yang cukup perlu dilakukan. Hal ini bertujuan agar ritme atau irama kerjanya bisa diatur ulang.

Karena, ternyata banyak tenaga kesehatan yang harus menjalani double shift dan akan sangat melelahkan. Apalagi harus dengan menggunakan APD lengkap selama berjam-jam. Kemudian terkait asupan suplemennya juga harus diperhatikan.

"Dukungan itu yang kerap disoroti teman-teman perawat. Kemudian fasilitas kesehatan juga menyediakan tempat yang representatif untuk transit atau istirahat," katanya.

Di sisi lain, Harif memandang perlu ketaatan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Dia yakin saat ini semua lapisan masyarakat sudah mengetahui, tapi bagaimana menjadi sadar dan melaksanakan protokol kesehatan itu yang masih jadi persoalan.

BACA JUGA : 91 Nakes di Kulonprogo Terpapar Corona

Untuk itu, Harif mengatakan, pihaknya hanya mengimbau, masyarakat untuk menjaga kesehatan, dengan menjaga kesehatan diri sendiri sebenarnya sudah berkontribusi menjaga kesehatan keluarga, dan lebih luas lagi menjaga kesehatan lingkungan.

"Kembali ke diri sendiri, saya yakin setiap orang ingin sehat," imbuhnya Harif.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia