Tiga Hambatan Indonesia Menuju Negara Kelas Menengah

Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
01 Juli 2021 05:47 WIB Dany Saputra News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) menyebut Indonesia masih perlu untuk mendorong terciptanya pekerjaan kelas menengah (middle-class jobs) untuk mendukung upaya menjadi negara kelas menengah (middle-class country).

Dalam laporan bertajuk “Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia”, Bank Dunia mencatat hanya 13 juta penerima pendapatan yang menghasilkan cukup untuk membiayai kehidupan kelas menengah untuk empat anggota keluarga. Jumlah tersebut setara dengan 15 persen dari total 85 juta penerima pendapatan yang meliputi pegawai, pekerja kasual, dan wiraswasta.

“Indonesia tidak menciptakan lapangan kerja kelas menengah yang dibutuhkan untuk mendorong negara kelas menengah. Hampir setengah dari penduduk Indonesia masih terjebak dalam status calon kelas menengah, atau mereka yang telah keluar dari kemiskinan tetapi masih belum mencapai kelompok berpenghasilan menengah,” tulis Bank Dunia dalam laporannya yang dikutip Bisnis, (30/6/2021).

Berdasarkan laporan tersebut, ada tiga faktor yang menghalangi transisi Indonesia dalam menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah. Pertama, pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan selama dua dekade melalui transformasi struktural, belum memberikan perolehan produktivitas yang cukup untuk menciptakan pekerjaan kelas menengah.

Bank Dunia menuliskan selama dua dekade terakhir, sebagian besar pekerjaan-pekerjaan baru merupakan layanan dengan produktivitas rendah, di mana produktivitas tenaga kerja tidak jauh lebih tinggi daripada di bidang pertanian.

Kedua, struktur sektor perusahaan Indonesia tidak kondusif untuk menciptakan lapangan kerja kelas menengah. Pasalnya, Bank Dunia menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia diciptakan dan tetap kecil, serta bukan pencipta pekerjaan kelas menengah yang signifikan.

Bank Dunia mencatat dua pertiga pekerjaan ada di perusahaan rumah tangga, dengan 45 juta pemilik dan 38 juta pekerja, hampir semuanya informal. Sektor manufaktur yang menyediakan lapangan pekerjaan terbanyak selama tahun 1980-an dan 1990-an, menciptakan sejumlah pekerjaan yang memenuhi spesifikasi namun semakin banyak berada di perusahaan-perusahaan tua dan sangat besar.

“Lebih lanjut, perusahaan manufaktur asing berukuran sedang dan besar, yang mempekerjakan lebih banyak daripada perusahaan domestik dan membayar upah lebih tinggi, kurang lazim di Indonesia dibandingkan pesaing regional yang telah memanfaatkan investasi asing langsung [foreign direct investment] untuk pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang cepat,” tulis Bank Dunia.

Ketiga, tenaga kerja di dalam negeri tidak dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan kelas menengah yang cenderung pada pekerjaan yang lebih terampil. Bank Dunia lalu mencatat sebanyak 57 persen dari angkatan kerja memiliki pendidikan menengah ke bawah atau lebih rendah.

“Hasil belajarnya juga buruk. Seorang anak Indonesia yang memasuki sistem pendidikan saat ini diharapkan menyelesaikan 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya akan belajar setara dengan 7,8 tahun,” demikian ditulis di dalam laporan.

Sumber : JIBI/Bisnis.com