Bank Dunia Tunjuk Sri Mulyani Pimpin IDA22, Ini Tugasnya
Sri Mulyani ditunjuk sebagai Ketua Bersama pengisian dana IDA22 Bank Dunia untuk memimpin dukungan pembiayaan bagi negara berpendapatan rendah.
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis/Abdullah Azzam
Harianjogja.com, JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) menyebut Indonesia masih perlu untuk mendorong terciptanya pekerjaan kelas menengah (middle-class jobs) untuk mendukung upaya menjadi negara kelas menengah (middle-class country).
Dalam laporan bertajuk “Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia”, Bank Dunia mencatat hanya 13 juta penerima pendapatan yang menghasilkan cukup untuk membiayai kehidupan kelas menengah untuk empat anggota keluarga. Jumlah tersebut setara dengan 15 persen dari total 85 juta penerima pendapatan yang meliputi pegawai, pekerja kasual, dan wiraswasta.
“Indonesia tidak menciptakan lapangan kerja kelas menengah yang dibutuhkan untuk mendorong negara kelas menengah. Hampir setengah dari penduduk Indonesia masih terjebak dalam status calon kelas menengah, atau mereka yang telah keluar dari kemiskinan tetapi masih belum mencapai kelompok berpenghasilan menengah,” tulis Bank Dunia dalam laporannya yang dikutip Bisnis, (30/6/2021).
Berdasarkan laporan tersebut, ada tiga faktor yang menghalangi transisi Indonesia dalam menciptakan lebih banyak pekerjaan kelas menengah. Pertama, pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan selama dua dekade melalui transformasi struktural, belum memberikan perolehan produktivitas yang cukup untuk menciptakan pekerjaan kelas menengah.
Bank Dunia menuliskan selama dua dekade terakhir, sebagian besar pekerjaan-pekerjaan baru merupakan layanan dengan produktivitas rendah, di mana produktivitas tenaga kerja tidak jauh lebih tinggi daripada di bidang pertanian.
Kedua, struktur sektor perusahaan Indonesia tidak kondusif untuk menciptakan lapangan kerja kelas menengah. Pasalnya, Bank Dunia menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia diciptakan dan tetap kecil, serta bukan pencipta pekerjaan kelas menengah yang signifikan.
Bank Dunia mencatat dua pertiga pekerjaan ada di perusahaan rumah tangga, dengan 45 juta pemilik dan 38 juta pekerja, hampir semuanya informal. Sektor manufaktur yang menyediakan lapangan pekerjaan terbanyak selama tahun 1980-an dan 1990-an, menciptakan sejumlah pekerjaan yang memenuhi spesifikasi namun semakin banyak berada di perusahaan-perusahaan tua dan sangat besar.
“Lebih lanjut, perusahaan manufaktur asing berukuran sedang dan besar, yang mempekerjakan lebih banyak daripada perusahaan domestik dan membayar upah lebih tinggi, kurang lazim di Indonesia dibandingkan pesaing regional yang telah memanfaatkan investasi asing langsung [foreign direct investment] untuk pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang cepat,” tulis Bank Dunia.
Ketiga, tenaga kerja di dalam negeri tidak dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan kelas menengah yang cenderung pada pekerjaan yang lebih terampil. Bank Dunia lalu mencatat sebanyak 57 persen dari angkatan kerja memiliki pendidikan menengah ke bawah atau lebih rendah.
“Hasil belajarnya juga buruk. Seorang anak Indonesia yang memasuki sistem pendidikan saat ini diharapkan menyelesaikan 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya akan belajar setara dengan 7,8 tahun,” demikian ditulis di dalam laporan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Sri Mulyani ditunjuk sebagai Ketua Bersama pengisian dana IDA22 Bank Dunia untuk memimpin dukungan pembiayaan bagi negara berpendapatan rendah.
Penggunaan QRIS parkir di Sleman belum mencapai 1%. Dishub Sleman bertahap melakukan digitalisasi dan menata kantong parkir.
Basarnas menghentikan penyelaman KM Virgo Transport 8 karena kondisi jasad korban berubah. Pencarian 55 korban tetap dilanjutkan.
Inggris mengalahkan Kroasia 7-0 di UEFA Nations League 2026/27. Harry Kane dan Bukayo Saka masing-masing mencetak dua gol.
Kementerian Pariwisata mencatat makanan lokal mulai langka dan 45% berpotensi punah. Sego golong hingga dawet sambel perlu dilestarikan.
Tiket final FIFA ASEAN Cup 2026 Indonesia vs Thailand telah terjual lebih dari 55 ribu kursi hingga Sabtu, 3 Oktober 2026.