Studi: Kombinasi AstraZeneca dan Pfizer Menciptakan Sistem Imun Lebih Kuat

Seorang petugas medis memegang vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Careggi, Florence, italia, Minggu (27/12/2020). - Antara/Reuters
29 Juni 2021 07:17 WIB Hadijah Alaydrus News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hasil studi Universitas Oxford mengungkapkan dosis vaksin Covid-19 dari Pfizer Inc. yan dicampur dengan AstraZeneca Plc menciptakan respons kekebalan yang kuat.

Jadwal campuran suntikan Pfizer diikuti oleh vaksin Astra, dan sebaliknya, menghasilkan konsentrasi antibodi yang tinggi terhadap Covid-19 ketika diberikan dalam selang waktu empat minggu, para peneliti melaporkan dalam jurnal medis Lancet, Senin (28/6/2021).

Kemampuan untuk mencampur dosis dapat membantu negara-negara dengan pasokan vaksin yang berbeda membantu satu sama lain.

Seperti diketahui, dokter dan pejabat kesehatan masyarakat telah menganalisis berbagai cara untuk memperpanjang pasokan vaksin - dengan menunda waktu antara dosis pertama dan kedua, misalnya - karena banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah mencoba mencari cara untuk mengatasi kelangkaan vaksin.

Urutan orang mendapatkan vaksin mempengaruhi hasil. Astra diikuti oleh Pfizer menghasilkan tingkat antibodi kekebalan dan sel-T yang lebih tinggi daripada Pfizer yang diikuti oleh Astra.

Kedua jadwal penyuntikan vaksin campuran memanggil lebih banyak antibodi daripada dua kali dosis Astra, menurut temuan studi tersebut. Respon sel T terbaik berasal dari Astra diikuti oleh Pfizer, dan respon antibodi tertinggi terlihat dari dua dosis Pfizer.

“Ini mendukung fleksibilitas dalam penggunaan jadwal ini, di mana keadaan setempat mengharuskannya,” kata Matthew Snape, seorang profesor Oxford yang memimpin percobaan tersebut dalam konferensi pers. "Ini memberi semua orang pilihan," tambahnya.

Suntikan vaksin AstraZeneca saat ini diberi jarak 12 minggu di Inggris, yang memperluas aksesibilitas dan tampaknya meningkatkan efektivitas vaksin. Riset Oxford menunjukkan bahwa suntikan dengan jarak selama 10 bulan meningkatkan respons lebih jauh. "Hasil dari tes dosis campuran pada interval 12 minggu akan tersedia dalam bulan depan atau lebih," kata Snape.

Uji coba melibatkan 830 sukarelawan berusia 50 tahun ke atas dan menguji vaksin hanya terhadap varian yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan.

Snape menilai pengujian lebih lanjut terhadap jenis virus Corona lainnya dapat berguna untuk menginformasikan vaksin dan kombinasi mana yang akan digunakan vaksinasi di musim dingin mendatang. Penelitian lebih lanjut dari program ini akan melihat kombinasi vaksin dari Moderna Inc. dan Novavax Inc.

Bulan lalu, penelitian awal dari studi tersebut menemukan bahwa pencampuran dosis Pfizer dan Astra meningkatkan efek samping, seperti kelelahan dan sakit kepala. Namun, temuan dari studi Lancet mengatakan bahwa efek ini hanya sementara.

Sumber : JIBI/Bisnis.com