OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Pasien Covid-19 di parkiran rumah sakit./ilustrasi
Harianjogja.com, JAKARTA – Bertambahnya kasus harian Covid-19 ini membuat persediaan untuk ruang isolasi di rumah sakit semakin berkurang setiap harinya.
Baru-baru ini, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuanku Guru Bajang mem-posting video yang memperlihatkan pasien dari suatu rumah sakit yang membludak sampai ke halaman rumah sakit.
“Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuhu. Hari ini. Bukan di India, tapi di negeri kita ini. Mau abai seperti apalagi? Ayo ikhtiar jaga diri dan orang lain dengan patuh pada protokol kesehatan,” tulis Tuanku Guru Bajang di akun Instagram @tuangurubajang, Jumat (25/6/2021).
Belum diketahui di rumah sakit mana pembludakan pasien sampai ke halaman parkir. Dalam video yang di-posting oleh mantan Gubernur NTB itu juga memperlihatkan pasien yang membludak bukan hanya di parkiran saja, ada juga ada pasien yang berada di mobil pikap.
Menurut data yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan di akun Twitter mereka ada penambahan 20.574 pada kemarin, Kamis (24/6/2021). Angka tersebut menjadi rekor penambahan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Gerakan tersebut diwujudkan melalui implementasi aplikasi STUPA, yaitu layanan keuangan digital berbasis aplikasi uang elektronik.
Kulonprogo masih aman dari kekeringan di awal kemarau 2026. BPBD siaga droping air bersih diperkirakan mulai Agustus.
Subaru membatalkan mobil listrik internal setelah laba operasional anjlok 90 persen akibat tekanan tarif impor Amerika Serikat.
Veda Ega unggul klasemen Moto3 2026 meski kalah top speed dari Hakim Danish. Duel keduanya makin ketat di lintasan.
Sharenting anak di media sosial berisiko kebocoran data, pelacakan lokasi, hingga pencurian identitas menurut studi Kaspersky dan SIT.