Tinggalkan PAN, Eks Caleg PAW Hanafi Rais Kini Jadi Ketua DPW Perindo DIY

Ketua DPW Perindo DIY Yuni Astuti. - Ist/Dok.
01 Juni 2021 16:47 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Politikus Yuni Astuti secara resmi memimpin Partai Perindo DIY setelah meninggalkan Partai Amanat Nasional (PAN). Yuni mendapatkan perintah langsung dari Ketua Umum Perindo Hari Tanoesoedibjo untuk memimpin Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perindo DIY melalui SK yang diberikan pada akhir April lalu.

“SK [sebagai Ketua DPW Perindo] saya terima pada 26 April 2021 lalu,” ungkap Yuni dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa 91/6/2021).

BACA JUGA : Gara-Gara Jokowi, 8 Caleg Muda Perindo DIY Cabut Berkas

Sebelumnya Yuni yang tinggal selangkah lagi akan melakukan pergantian antar waktu (PAW) menduduki kursi di DPR RI yang ditinggalkan Hanafi Rais menyatakan mundur dari PAN pada 21 April 2021.

Yuni ketika itu tak mengungkap secara detail alasan pengunduran dirinya. Ia hanya mengaku kurang nyaman dengan kondisi PAN. Sekaligus menyadari bahwa haknya sebagai politikus yang bakal menggantikan Hanafi Rais untuk duduk di kursi DPR RI otomatis akan hilang. Baginya tak terlalu prestisius menduduki kursi DPR dari hasil PAW kursi yang ditinggalkan Hanafi Rais.

Selang beberapa hari, rupanya DPP Perindo meminang Yuni dan memberikan tugas sebagai Ketua DPW untuk membenahi Perindo DIY yang belum mendapatkan hasil suara memuaskan pada Pemilu 2019 silam.

Ia menyatakan kemantapannya bergabung di Perindo DIY dan akan fokus untuk menata struktural partai. Semua jajarannya akan dimaksimalkan untuk berperan untuk partai agar tidak sekedar formalitas menjadi pengurus dalam SK.

BACA JUGA : H-9 Coblosan, Hanura dan Perindo Dukung Halim-Joko

“Kami akan mendorong semua pengurus harus rajin turun ke masyarakat untuk membantu, menjalankan program Perindo sesuai kebutuhan masyarakat di DIY. Pembenahan struktural terutama dan akan banyak mengisi kepengurusan dari kader perempuan,” ujarnya.

Ia akan berupaya menumbuhkan rasa memiliki dan saling tolong menolong, menghargai perbedaan di internal partainya. Terpenting, kata dia, berani menyuarakan suatu pendapat dengan cara yang benar dan beretika.

“Menyuarakan dengan cara-cara yang beretika tentunya,” kata dia.