Ini Efek Covid-19 pada Otak Manusia

Saraf - youtube
22 Mei 2021 21:07 WIB Astrid Prihatini Wisnu Dewi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Penelitian terbaru menemukan pasien Covid-19 dengan terapi oksigen mengalami penurunan volume materi abu-abu atau grey matter di lobus frontal otak.

Penelitian awal ini dilakukan untuk melihat jumlah materi abu-abu di lapisan luar atau korteks otak pasien.

Bagaimana Covid-19 bisa menyebabkan penurunan volume grey matter di otak?

Ilmuwan dari Georgia State University, Atlanta, menganalisis hasil CT scan pasien yang menjalani evaluasi gejala neurologis di satu rumah sakit wilayah Brescia, Italia.

Namun, tidak semua pasien Covid-19 mengalami penurunan volume grey matter di otak. Penelitian itu melibatkan 120 pasien, 58 orang menderita infeksi Virus Corona, sedangkan 62 orang lainnya tidak.

Tim lalu mencocokkan kedua kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin, dan penyakit lainnya.

Hasilnya, para peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan dalam volume grey matter di otak di antara kedua kelompok. Namun, mereka menemukan perbedaan di antara pasien Covid-19 yang mendapatkan terapi oksigen.

Terapi Oksigen

Pasien Covid-19 yang membutuhkan terapi oksigen mengalami penurunan volume materi abu-abu di lobus frontal, dibandingkan yang tidak mendapat perawatan tersebut.

Volume grey matter di otak juga ditemukan lebih rendah di daerah frontal pada pasien Covid-19 yang mengalami demam.

Materi abu-abu yang lebih rendah di wilayah otak ini dikaitkan dengan tingkat kecacatan yang lebih tinggi di antara pasien Covid-19, bahkan hingga enam bulan pasca-keluar dari rumah sakit.

Menurut dokter Devia Irine Putri, penyebab penurunan grey matter pada pasien Covid-19 bisa saja disebabkan infeksi yang dialami pasien.

Infeksi secara tidak langsung dapat merusak daerah otak yang teridentifikasi, karena demam atau kekurangan oksigen.

“Dari laporan yang ada, penurunan volume grey matter diduga karena infeksi yang secara tidak langsung merusak bagian otak tertentu maupun karena kondisi kurangnya suplai oksigen,” katanya seperti mengutip klikdokter.com, Jumat (21/5/2021).

Gangguan Mood

Mengapa penurunan volume grey matter di otak menjadi sorotan peneliti?

Mengutip livescience, sistem saraf pusat terdiri dari dua jenis jaringan, yaitu materi abu-abu (gray matter) dan materi putih (white matter).

Materi putih berperan dalam membawa impuls dari dan ke materi abu-abu, sementara gray matter berfungsi untuk memproses informasi.

Menurut Devia, grey matter di otak adalah bagian dalam susunan saraf yang terdiri dari banyak sel saraf dan akson yang tidak bermielin.

Akson yang tidak bermielin artinya tidak ditutupi oleh protein lemak berwarna keputihan yang disebut mielin.

Selain akson, di materi abu-abu juga ditemukan sel glial (astroglia dan oligodendrosit) dan kapiler. Sel glial memberikan nutrisi dan energi ke neuron, yaitu unit kerja sistem saraf pusat yang berfungsi sebagai penghantar informasi berupa rangsangan atau impuls.

Sel glial juga bekerja untuk membantu mengangkut glukosa ke otak, dan membersihkan otak dari bahan kimia berlebih. Karena sel akson pada gray matter tidak dikelilingi oleh mielin putih, mereka mengambil warna keabu-abuan alami dari sel neuron dan sel glial.

Pada manusia hidup, grey matter di otak akan terlihat berwarna kecokelatan atau kemerahan karena sistem saraf punya banyak sekali pembuluh darah kecil yang disebut kapiler.

Menurut Devia, penurunan volume grey matter di otak telah terbukti terlibat dalam gangguan mood, seperti skizofrenia.

“[Penurunan grey matter] Bisa berhubungan ke penyakit alzheimer atau daya ingat, bisa juga mengarah ke gangguan mood, depresi, dan skizofrenia,” ucapnya.

Namun, penelitian tentang penurunan volume grey matter di otak ini masih sangat terbatas, jumlah sukarelawan yang diteliti juga masih sangat minim.

Oleh karena itu, belum dapat disimpulkan bahwa semua pasien Covid-19 yang demam atau mendapat terapi oksigen akan mengalami penurunan volume grey matter di otak.

Jadi, masih dibutuhkan penelitian yang lebih banyak untuk menarik kesimpulan efek Covid-19 pada otak tersebut.

 

Sumber : JIBI/Solopos