Sandiaga Minta Desa Wisata Coba Konsep Storynomic Tourism, Apa Maksudnya?

Ilustrasi desa wisata. - Kemenparekraf
13 Maret 2021 18:57 WIB Rio Sandy Pradana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong penguatan desa-desa wisata sebagai sehingga dapat membuka lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat melalui atraksi berbasis narasi (storynomic tourism).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan storynomic tourism dapat menimbulkan daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya terhadap Desa Wisata Karangrejo di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Biasanya wisatawan datang ke Borobudur hanya foto-foto dan posting di media sosial, ke depan kita ingin ditingkatkan dengan narasi seperti bagaimana desa ini dulu merupakan bagian dari pembangunan Candi Borobudur. Bagaimana desa ini berperan pada tahapan renovasi, tokoh-tokoh di sini dapat menceritakan tempat-tempat situs yang berkaitan dengan Borobudur, sehingga ada storytelling," kata Sandiaga dalam siaran pers, Sabtu (13/3/2021).

Dia menuturkan Desa Karangrejo merupakan salah satu desa wisata yang telah tersertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan. Konsep keberlanjutan sendiri menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki desa wisata untuk menjadi desa wisata mandiri.

Sandiaga menilai desa wisata Karangrejo memiliki kekuatan yang kuat sebagai destinasi. Selain homestay, desa wisata ini juga menawarkan atraksi lain yang sudah dikenal wisatawan, seperti kerajinan pahat batu, spot sunrise Punthuk Setumbu, dan Gereja Ayam, kebun buah, VW Safari Tour, dan lainnya.

Tercatat, sebelum pandemi, desa wisata ini dikunjungi lebih dari 20 ribu wisatawan mancanegara dan 50 ribu wisatawan nusantara.

Dia mendorong agar desa wisata Karangrejo terus meningkatkan kualitas keberlanjutan dan daya tarik. Salah satunya mengedepankan orisinalitas yang dimiliki dengan pendekatan atraksi berbasis narasi.

Kemudian desa wisata Karangrejo dan desa wisata lainnya harus menjadi bagian dari travel plan wisatawan. Desa wisata harus dapat merancang paket perjalanan 3–4 hari yang disandingkan dengan konsep ecotourism atau sport tourism.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia