Staf Khusus Presiden Sebut Cagar Budaya di DIY Terancam Pembangunan Kota

Pengunjung melihat koleksi artefak dari zaman megalitikum di Situs Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan
12 Maret 2021 20:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana mengatakan pelestarian dan pengembangan cagar budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tantangan perluasan dan percepatan pembangunan kota yang padat penduduk.

Dalam kunjungan budaya ke DIY, Ari menyampaikan cagar budaya di DIY memiliki potensi besar agar semakin dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata dan pusat edukasi yang membuat masyarakat semakin mencintai budaya bangsa.

“DIY ini padat cagar budaya, tetapi tantangannya sekarang itu banyak cagar budaya berada di daerah yang sudah berkembang menjadi kota metropolitan, wilayah perkotaannya yang sangat padat, ini tantangannya," ujar Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (12/3/2021).

BACA JUGA: Bundaran Besar Malioboro Diterapkan, Pembatas Jalan Suryotomo Akan Dibongkar

Ari mengatakan cagar budaya di DIY bukan hanya candi, tetapi juga bangunan, struktur, atau benda yang merupakan warisan budaya, termasuk bangunan heritage (warisan) di sepanjang kawasan Jalan Malioboro.

Oleh karena itu, menurut Ari, tantangan tersebut harus dihadapi dengan cara menguatkan sinergi dengan Pemerintah Daerah, hal itu karena di masa otonomi daerah seperti saat ini, banyak kewenangan yang sudah didesentralisasikan, termasuk pengaturan tata ruang wilayah.

“Bekerja sama dengan Pemda harus lebih kreatif, jangan sampai membangun dan merawat cagar budaya ini hanya dipandang cost center, akan membebani anggaran pemda, tapi ini sebagai investasi budaya yang akan juga berdampak ekonomi untuk daerah dan masyarakat,” jelas Ari.

Ari mengapresiasi kerja sama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dengan Pemda Sleman dalam mengelola 8 candi (Candi Gebang, Candi Sari, Candi Sambisari, Candi Barong, Candi Ijo, Candi Kalasan, Candi Kedulan, Candi Banyunibo). Model kerja sama tersebut bisa dijadikan contoh bagi daerah lainnya.

“Sehingga nanti ada dua model yang bisa diterapkan dalam pengelolaan dan pengembangan cagar budaya, bisa model kerja sama delapan candi seperti BPCB-Sleman, atau bisa juga model seperti pengelolaan langsung oleh Taman Wisata Candi (BUMN),” tutur Ari.

Kepala BPCB DIY Zaimul Azzah mengungkapkan jumlah cagar budaya di DIY umumnya terkonsentrasi di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, daerah yang memang padat penduduk. Terkait kendala, Zaimul mengakui yang dihadapi selama ini terkait pembebasan lahan warga di sekitar penemuan cagar budaya, yang biasanya sulit dicapai titik temu terkait harga tanah.

“Tantangan lainnya yaitu ketersediaan SDM khususnya juru pugar dan juru pelestari yang semakin hari semakin banyak yang memasuki usia pensiun, sementara belum bisa kita angkat lagi karena ada moratorium, tidak boleh juga angkat honorer atau profesional,” kata Zaimul.

Usai berkunjung ke BPCB, Ari dan rombongan meninjau langsung ke kawasan Candi Kalasan, Candi Kedulan, Situs Dawangsari, Candi Barong, dan Candi Ijo. Menurut Ari, candi-candi yang ada jika selesai dipugar akan menjadi sangat indah, dan memberikan kebanggan bagi rakyat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah sangat maju dan tinggi nilai seninya sejak dahulu.

“Ini untuk lebih bagus promonya, perlu dirutinkan nanti, tentu saja setelah pandemi, berbagai festival yang latar belakangnya candi-candi ini, pasti sangat menarik dan bagus untuk promosi ke depan,” kata Ari.

Sumber : Antara