Advertisement
WHO Sebut Banyak Negara Lambat Tangani Covid-19, Baru Sadar setelah Korban Berjatuhan
Ilustrasi Obat COvid-19. - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah hampir setahun menyebut Covid-19 sebagai pandemi dengan korban hampir 2,6 juta jiwa, organisasi di bawah naungan PBB itu kembali mengingatkan betapa tragisnya dampak dari wabah itu akibat banyak pemimpin negara menganggap remeh peringatan itu.
WHO memang membunyikan tingkat alarm tertinggi pada 30 Jan 2020 dengan mengumumkan Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC). Akan tetapi, setelah kata "pandemi" digunakan pada 11 Maret, baru banyak para pemimpin negara mulai bertindak tanpa menyebut sejumlah negara tersebut.
Advertisement
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, beberapa negara lambat menyadari risiko Virus Corona setelah deklarasi PHEIC. Saat itu, di luar China terdapat kurang dari 100 kasus Covid-19 dan belum ada kematian.
"Salah satu hal yang masih perlu kami pahami adalah mengapa beberapa negara bertindak berdasarkan peringatan itu, sementara yang lain bereaksi lebih lambat," katanya dalam konferensi pers seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (9/3/2021).
Pihaknya terus memperingatkan, bahwa dunia memiliki kesempatan sempit untuk mempersiapkan diri dan mencegah potensi pandemi. Banyak negara baru sadar pada 11 Maret, setelah jumlah negara dan kasus yang terkena dampak melonjak.
Merefleksikan mengapa beberapa negara tidak langsung bertindak sebelum kategorisasi pandemi diumumkan, Direktur Darurat WHO Michael Ryan mengatakan, terlalu banyak kepala negara yang mengira masalah tersebut akan berlalu begitu saja.
Dia sepenuhnya memahami bahwa publik ragu-ragu bereaksi terhadap deklarasi PHEIC, tetapi 194 negara anggota WHO setuju hal itu sebagai "pemicu tindakan kolektif dalam menanggapi wabah".
"Kami harus bertanya pada diri sendiri, ya, mungkin kami perlu berteriak lebih keras, tetapi mungkin beberapa orang membutuhkan alat bantu pendengaran," ujarnya dengan nada sinis.
Ryan mengibaratkan orang-orang yang tinggal di lembah ketika bendungan jebol tahu akan tingkat risikonya dan segera mengambil tindakan, sedangkan mereka yang berada di lereng bukit tidak merasakan urgensi sampai air naik.
Banyak orang mendengar, banyak negara mendengar dan mengambil tindakan, namun terlalu banyak negara mengira mereka berada di puncak gunung sambil menyaksikan air naik untuk mengkonsumsinya dan membanjiri negara lain, katanya mengibaratkan.
"Tapi yang tidak semua orang sadari adalah bahwa air naik untuk memakannya," katanya.
Karena itulah, hampir 2,6 juta orang telah tewas akibat Covid-19 sejak wabah muncul di China pada Desember 2019 dengan lebih dari 116 juta kasus. Pada akhirnya, penyesalan memang datangnya terlambat, setelah korban berjatuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Bentrokan Saat Protes, Lima Orang Tewas di Iran
- Juan Pedro Franco, Mantan Manusia Terberat Dunia Meninggal
- Tanpa Kembang Api, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Pengungsi
- Trump Pertimbangkan Jual Jet Tempur F-35 ke Turki, Israel Waspada
- Trump Klaim 95 Persen Rencana Damai Rusia-Ukraina Telah Disepakati
Advertisement
Awal 2026, Bupati Gunungkidul Rotasi 110 Pejabat, Ini Daftarnya
Advertisement
Tiket Museum Nasional Disesuaikan, Lansia hingga Yatim Gratis
Advertisement
Berita Populer
- Kemenkes Pastikan Vaksin Flu Efektif Hadapi Influenza H3N2
- Prabowo: Pemimpin Harus Siap Dihujat, Jangan Patah Semangat
- The Vibes of Paradise, Branding Baru Wisata Gunungkidul
- Borobudur Sambut 2026 dengan Ribuan Balon Penuh Empati
- Teror Beruntun Rumah DJ Donny Diserang Molotov, Ini Respons Polisi
- Kemenkes Siagakan Antibisa Ular di Wilayah Baduy
- Arus Balik Nataru, Tiket KA Solo Masih Tersedia
Advertisement
Advertisement



