Efek Samping Vaksin Covid-19 Sangat Mirip Gejala Covid-19

Ilustrasi - Freepik
17 Februari 2021 17:07 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tim di balik aplikasi Covid Study di Inggris menyebut efek samping vaksin Covid-19 bisa terasa sangat mirip dengan gejala Covid-19.

Di Inggris jutaan orang berusia di atas 65 tahun dan rentan secara klinis telah mendapatkan vaksin virus corona. Secara alami, laporan bermunculan tentang efek samping yang ditimbulkan dari proses vaksinasi tersebut.

Dilansir Express UK, Rabu (17/2/2021) pemahaman teranyar tentang efek samping dan dampak vaksinasi ditemukan di aplikasi Covid Study. Tim yang menganalisis data yang dikirimkan oleh pengguna menunjukkan efek setelah vaksinasi seperti kelelahan dan sakit kepala sangat mirip dengan penyakit pandemi.

Seperti yang dijelaskan, vaksin Covid-19 bekerja dengan menggunakan versi atau komponen yang tidak berbahaya dari virus corona SARS-CoV-2 untuk melatih sistem kekebalan tubuh, jadi ketika orang benar-benar terinfeksi oleh virus maka sistem kekebalan bisa melawannya.

“Respons pelatihan ini bisa terasa seperti efek yang kita dapatkan saat melawan infeksi nyata, termasuk sakit kepala, demam, menggigil, kelelahan, nyeri otot atau sendi, diare, hingga rasa mual atau muntah,” kata para peneliti. 

Menurut tim, umum juga bagi orang yang divaksin mengalami rasa sakit, bengkak, kemerahan atau gatal di tempat suntikan, hingga pembengkakan kelenjar di ketiak. Peneliti mengingatkan kendati membuat khawatir, semua efek itu adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh bekerja keras melindungi diri dari Covid-19.

Sementara itu, masih terlalu dini mengatakan bahwa vaksin akan memengaruhi kesempatan orang beraktivitas normal. Akan tetapi, data dari Israel menunjukkan bahwa vaksin bisa berpengaruh pada penyebaran dan keparahan penyakit yang ditimbulkan.

Data terbaru dari Israel, menunjukkan bahwa suntikan vaksin Pfizer mencegah 94 persen infeksi simtomatik. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin bekerja dengan baik dalam populasi yang lebih besar seperti yang dilakukan dalam uji klinis.

Hasil ini menjadi kabar gembira yang diharapkan negara lain akan melihat tren serupa. Hagai Levine, dokter kesehatan masyarakat mengatakan vaksin terbukti efektif dalam mencegah penyakit dan keparahan penyakit di antara semua kelompok umur.

“Cakupan vaksinasi yang tinggi dari kelompok yang paling rentan adalah kuncinya,” kata Levine.

Lembaga kesehatan Israel Clalit memeriksa tes positif pad 600.000 orang yang divaksinasi dan jumlah yang sama dari orang yang tidak divaksin, dicocokkan dengan usia dan status kesehatannya. Mereka menemukan 94 persen lebih sedikit infeksi di antara kelompok yang divaksin.

Ini didasarkan pada hasil tes dalam rekam medis seseorang, biasanya diambil jika mereka memiliki gejala atau ada kontak dekat dengan seseorang yang dites positif, dan vaksin tersebut mencegah hampir semua kasus penyakit serius.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia