Listyo Sigit Jadi kapolri karena Orang dekat Jokowi? Begini Klaim Istana

Kepala Staf Presiden Moeldoko. - Suara/Ria Rizki
20 Januari 2021 19:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Otoritas Istana Kepresidenan membeberkan alasan Presiden Jokowi memilih Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyangkal anggapan terpilihnya Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjadi calon tunggal Kapolri karena memiliki kedekatan dengan Presiden Jokowi. Hari ini, DPR telah menyetujui jenderal muda pilihan Jokowi itu untuk diangkat sebagai Kapolri menggantikan Jendral Idham Azis yang memasuki masa pensiun.

Moeldoko mengklaim alasan Jokowi memilih Listyo, karena memiliki semua kriteria dari mulai kapasitas, kapabilitas, loyalitas dan integritas.

BACA JUGA: 13 Warga Jogja Meninggal Dalam Sehari, 287 Positif Covid-19

"Jadi semua agregat dari indikator-indikator yang dikenali dari awal itu memuculkan sebuah agregat. Dan agregat itu seseorang akan dipilih begitu. Jadi bukan karena macam-macam. Jangan diartikan macam-macam," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (20/1/2021).

Listyo diketahui pernah menjadi ajudan Jokowi saat Jokowi menjadi Wali Kota Solo tahun 2014. Moeldoko menuturkan seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Kata Moeldoko, kalau dia memiliki tanggungjawab yang luar biasa, maka harus mempunyai kemampuan yang luar biasa.

"Itu berkaitan dengan capability seseorang. Kapasitas dia (Listyo) dalam mengadopsi berbagai persoalan, dia sudah terbukti," ucap dia.

Moeldoko melanjutkan, pemimpin juga harus memiliki loyalitas kepada negara dan integritas. Hal tersebut menjadi pertimbangan Jokowi memilih Listyo yang memiliki semua kriteria untuk menduduki jabatan Kapolri.

"Seorang pemimpin harus punya loyality kepada negara. Itu pasti. Nggak bisa ditawar itu. Integritas satunya kata dengan perbuatan, itu juga yang selalu dilihat. Tanggungjawab dan seterusnya. Itu beberapa hal yang menjadi pertimbangan seseorang untuk bisa menduduki jabatan tertinggi di dalam sebuah organsiasi itu. Jadi pertimbangannya seperti itu. Bukan yang lain-lain," ucap dia.

Mantan Panglima TN itu tak mempermasalahkan Listyo yang melangkahi empat angkatan seniornya. Hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan Jokowi menunjuk Listyo memimpin korps Bhangkara.

"Ya memang begini ya. Satu hal yang juga menjadi pertimbangan kalau kita menempatkan. Saya mantan panglima TNI memikirkan bagaimana memikirkan antara mempertimbangkan satu senioritas, yang kedua mempertimbangkan yang tadi itu," kata Moeldoko.

Kendati demikian, Moeldoko memastikan Jokowi sudah memikirkan untuk kepentingan yang lebih besar ke depannya. Sehingga ada pertimbangan-pertimbangan lain yang dipilih Jokowi untuk mengusulkan Listyo menjadi calon Kapolri.

"Jadi ini kan pilihan-pilihan. Pilihan pertama pendekatannya senioritas. Pilihan yang kedua pendekatannya yang tadi beberapa persyaratan tadi. Bisa pendekatan senioritas apabila apa yang menjadi pemikiran bapak presiden tadi berbagai indikator terpenuhi," kata Moeldoko.

Namun kata Moeldoko kandidat yang tak dipilih Jokowi, alasannya tidak bisa dijelaskan secara matematik. Pasalnya kata Moeldoko ada penilaian -penilaian lain baik dari jarak dekat, jarak jauh, keseharian maupun pengalaman empiris calon Kapolri.

"Pertanyannya apakah mereka tidak terpenuhi? dalam konteks ini tidak bisa dijelaskan secara matematik karena penilaian itu bisa bersifat jarak dekat, penilaian bisa jarak jauh, penilaian bisa dilakukan dalam keseharian, dari pengalaman-pengalaman empirik yang terjadi selama ini, " kata dia.

"Jadi penilaian itu bersifat holistik. Holistik memperhatikan berbagai hal, baik dari sisi persyaratan-persyaratan yang tadi, dari sisi psikologinya, dari sisi yang lain-lain," sambungnya.

Sumber : Suara.com