Advertisement
Seberapa Penting Sains Jadi Rujukan Menangani Pandemi? Ini Kata Pakar..
Rektor UII Profesor Fathul Wahid. - @Youtube.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah pakar melakukan pembahasan terkait pentingnya sains sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Hal ini dibahas secara daring oleh Lembaga Kebudayaan Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Embun Kalimasada secara daring.
Rektor UII Profesor Fathul Wahid memberikan gambaran betapa sains selayaknya menjadi rujukan dalam menentukan setiap kebijakan penanganan pandemi. Namun pihaknya melihat belum semua negara menjadi sains sebagai rujukan utama.
Advertisement
BACA JUGA : Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Prediksi Terbaru
“Negara, pemerintah, lintas teritorial perlu merepsons pandemi, berkaca di AS jadi cermin terkait hubungan antara politik dan sains. Di mana ada sebuah majalah ilmiah di AS yang secara terang-terangan mendukung capres Joe Biden. Ini tidak lazim sebuah majalah ilmiah mendukung kandidat presiden, ini pertama kali. Alasannya ternyata karena melihat [bahwa presiden AS sebelumnya] tidak menghargai sains sama sekali dalam menangani pandemi,” kata Fathul melalui Youtube Embun Kalimasada sebagaimana dipantau Harianjogja.com, Kamis (14/1/2021).
Ia mengatakan, diskusi Laporan Tahunan Islam Indonesia 2020 ini untuk melihat dari berbagai perspektif, apakah saran pakar didengar dengan serius diakomodasi dalam pengambilan kebijakan. Menurutnya berdasarkan penelitian salah satu lembaga pendorong sains terbuka di Swiss dengan melibatkan responden 25.000 sainstis dunia. Urutan tertinggi Selandia Baru di angka 77% pakar menyatakan bahwa negara tersebut menggunakan sains sebagai dasar pengambilan kebijakan, kemudian Chile 22%, Brasil 23%, Inggris 24% dan AS 18%.
“Sayangnya tidak ada data spesifik terkait Indonesia. Ini penting untuk melihat pemerintah kita apakah sudah menjadikan sains ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan. Ketika politik dan sains bergabung, tujuan sains dan politik itu sama yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan manusia,” katanya.
BACA JUGA : KABAR KAMPUS: Pakar UGM Sebut Kecanduan Internet
Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Jogja Profesor Purwo Santoso dalam diskusi itu sepakat tentang pentingnya sains sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan oleh pemerintah. Ia menyorot tentang keterkaitan antara ilmu satu dengan lainnya yang seharusnya saling melengkapi sehingga bisa memberikan manfaat terutama diadopsi pengambil kebijakan.
“Kenapa ilmu satu dengan yang lain ini harus saling melengkapi sehingga tidak terjadi arogansi disiplin ilmu, di mana harus disiplin ilmu sendiri-sendiri [yang masing-masing diunggulkan],” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Libur Lebaran, Kapasitas KAI Bandara Jogja Naik Jadi 275 Ribu Kursi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- 700 Pemudik Gratis Karanganyar Tiba di Masjid Agung Madaniyah
- Layanan Honda CARE Siaga Ramadan di Jogja, Kedu dan Banyumas
- Pep Guardiola Tergetkan Manchester City Comeback Lawan Real Madrid
- Prakiraan Cuaca 17 Maret 2026: Hujan Petir dan Hujan di Sejumlah Kota
- Van Gastel Tegaskan PSIM Jogja Belum Aman dari Jerat Degradasi
- Harga Pangan Selasa 17 Maret 2026: Cabai Rawit Merah Rp90.000
- Apple Rilis AirPods Max 2: Bawa Chip H2 dan Fitur Terjemahan Real-Time
Advertisement
Advertisement








