Begini Akhir Kisah Trump di Gedung Putih

Para pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung U.S. Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021)./Antara - Reuters/Stephanie Keith
14 Januari 2021 23:17 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hanya 7 hari saja sebelum Presiden Donald Trump harus meninggalkan Gedung Putih, dirinya ditampar dengan keputusan pemakzulan yang juga melibatkan 10 anggota Republik. Hal ini menjadi “luka” bagi sejarah kepemimpinan Presiden AS.

DPR tidak dapat menahan lagi amarahnya setelah kerusuhan berdarah di Gedung Capitol pada Rabu, (6/1/2021) yang menewaskan lima orang, termasuk pegawai dan demonstran pro-Trump yang merengsek masuk ke gedung.

Donald Trump dinyatakan telah menghasut massa dan bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut.

New York Times melaporkan, Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan bahwa sepekan terakhir merupakan bab tergelap bagi sejarah Amerika.

“Dia harus pergi. Dia sudah jelas dan membahayakan bangsa yang kita cintai. Saya tidak senang mengatakannya - ini menghancurkan hatiku,” katanya.

Pemakzulan ini merupakan yang kali kedua setelah pemakzulan pertamanya karena tuduhan menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar melanjutkan investigasi terhadap Joe Biden dan anaknya Hunter terkait dengan keterlibatan Ukraina pada Pilpres AS 2016.

Pemakzulan tersebut didukung oleh mayoritas anggota legislatif atau 232 berbanding 197 orang yang dipimpin oleh Demokrat. Sebanyak 10 Republikan juga mendukung pemakzulan Trump.

Kesepuluh anggota Republik yang ikut memberi suara untuk pemakzulan Trump di antaranya adalah Liz Cheney (Wyoming), Jaime Herrera Beutler (Washington), John Katko (New York), Adam Kinzinger (Illinois), Fred Upton (Michigan), Dan Newhouse (Washington), Peter Meijer (Michigan), Anthony Gonzalez (Ohio), David Valadao (California), dan Tom Rice (South Carolina).

“Saya tidak takut kehilangan pekerjaan, tetapi saya takut negara saya akan gagal. Saya khawatir para patriot di negara ini mati sia-sia. Saya khawatir anak-anak saya tidak akan tumbuh di negara bebas. Saya takut ketidakadilan akan menang,” kata Herrera Beutler.

Sementara itu, Senator Senior Mitch McConnell, Republikan dari Kentucky mengatakan hal itu dilakukan untuk membersihkan partainya dari Trump serta untuk menyiapkan pertarungan politik dan konstitusional yang dapat membentuk arah politik Amerika.

Jika Senat memutuskan untuk menghukum Trump, hal itu bisa berujung pada larangan Trump untuk masuk ke bursa calon presiden pada masa mendatang.

McConnell tidak menyangkal bahwa dirinya mendukung pemakzulan. Tetapi, dia belum mengambil keputusan dan masih menunggu argumen hukum terkait pemakzulan.

Dalam pernyataan terpisah, McConnell menolak permohonan Demokrat untuk segera memulai persidangan. "Tidak mungkin [ada] pengadilan yang adil atau serius [sebelum pelantikan],” katanya.

Menurutnya, sebaiknya anggota Kongres fokus terhadap persiapan pelantikan Joe Biden yang akan dilaksanakan pada 20 Januari mendatang.

Sementara itu, menteri kabinet Trump yang masih tampak menunjukkan loyalitasnya adalah Menteri Luar Negeri Michael Pompeo.

Dilansir dari Bloomberg, Pompeo memilih hari pemakzulan bosnya untuk mempromosikan upaya Trump dalam perdamaian dunia.

Seiring dengan pengunduran diri sejumlah pejabat Gedung Putih dan beberapa pejabat yang belum bersikap, Pompeo menjadi loyalis paling lama dalam kabinet Trump.

Dalam unggahan Twitter, Pompeo menyebutkan akun NobelPrize sambil mengunggah foto Presiden Donald Trump yang mempertemukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab dan Bahrain untuk perjanjian normalisasi hubungan di Gedung Putih pada September lalu.

Pompeo mengkampanyekan yang dia sebut sebagai keberhasilan Presiden Trump dalam menerapkan “America’s First” lewat Twitter selama 2 pekan.

Dia memamerkan pemerintah Amerika yang melindungi negara menjadi tempat yang lebih aman. Di saat yang sama, 4.000 orang meninggal per harinya akibat Covid-19, disusul dengan kerusuhan gedung Capitol.

Pompeo tidak menyangkal klaim palsu Trump yang mengatakan bahwa ada kecurangan pemungutan suara hingga membuatnya kalah.

Dia diprediksi akan mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres jika Trump tidak mampu melakukan comeback. Pompeo juga bisa jadi mencalonkan diri sebagai gubernur Kansas pada 2022.

“Dalam beberapa hari mendatang, saya akan menjelaskan set misi, kemenangan besar, kisah pribadi, dan banyak lagi,” kata Mike dalam akun resminya sambil memperkenalkan akun pribadinya, @MikePompeo.

Sumber : Bisnis.com