Varian Baru Virus Corona di Inggris Punya 23 Mutasi

Ilustrasi. - Freepik
04 Januari 2021 23:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Varian baru virus Corona yang ditemukan di Inggris dilaporkan mengandung 23 substitusi nukleotida atau mutasi. Kemunculan mutan virus ini tak hanya menyebabkan kekhawatiran di Inggris, tetapi di seluruh dunia.

Berlabel SARS-CoV-2 VOC 202012/01, varian baru virus corona ini dilaporkan kepada World Health Organization (WHO) pada 14 Desember lalu. Selanjutnya, pada 26 Desember, varian baru telah diidentifikasi dari pengambilan sampel rutin dan pengujian genom di seluruh Inggris.

Dilansir dari Express UK, Senin (4/1/2021) temuan awal menunjukkan bahwa varian baru itu lebih mudah menular. Adapun, sejauh ini tidak ada perubahan dalam tingkat keparahan penyakit, yang diukur dari lama rawat inap dan kasus kematian pasien selama 28 hari terakhir.

Hingga saat ini, tidak ada kekhawatiran bahwa SARS-CoV-2 VOC 202012/01 lebih mungkin menginfeksi kembali orang dibandingkan dengan varian virus corona lain yang beredar. Namun yang jelas, varian ini telah menyebar ke berbagai negara dan telah dilaporkan di 31 negara lain.

Varian Corona Lain

Pada Agustus 2020, WHO melaporkan varian virus corona baru yang dikaitkan dengan infeksi di antara hewan cerpelai, yang kemudian menularkan virus ke manusia. Diidentifikasi di Denmark, varian ini memiliki kombinasi mutasi yang sebelumnya tidak diamati.

Studi pendahuluan menunjukkan varian ini dapat mengakibatkan penurunan netralisasi virus pada manusia. WHO menyebut, ini berpotensi mengurangi durasi perlindungan kekebalan setelah infeksi atau vaksinasi alami.

Selain itu, pada pertengahan Desember, varian baru yang beredar di Eastern Cape, Western Cape, dan Kwazulu-Natal Afrika Selatan diumumkan. Penyelidikan awal memberi informasi bahwa virus corona ini dikaitkan dengan viral load yang lebih tinggi.

Hal ini berarti ada potensi lebih banyak penularan sehingga menimbulkan kekhawatiran yang sama seperti di Inggris. Namun demikian hingga saat ini, belum ada bukti jelas yang terkait dengan penyakit lebih parah pada pasien.

Kenapa ada banyak varian virus corona?

Dokter Jeremy Ross, kontributor untuk Science Focus, membenarkan bahwa virus bermutasi. Akan tetapi, lanjutnya, sebagian besar mutasi tidak akan berdampak signifikan terhadap virus atau penyakit yang ditimbulkannya.

Menurutnya, mutasi bisa terjadi kapan saja. Dia bahkan mengatakan bahwa untuk ukuran virus, SARS-CoV-2 bermutasi dengan sangat lambat. Oleh karena itu, kemungkinan vaksin yang telah tersedia akan terus efektif.

“Kemungkinan perawatan [vaksin] baru akan tetap efektif. Dan kemungkinan juga virus tidak akan berubah secara dramatis selama beberapa bulan mendatang,” katanya.

Kendati demikian, Ross menyoroti pentingnya mengakhiri pandemi karena semakin lama virus terus beredar, semakin besar kemungkinannya terjadi mutasi baru lagi. WHO juga terus mengawasi virus corona baru karena beberapa mutasi memungkinkan pertumbuhan yang lebih besar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia