Ternyata, Tadi Malam Wuhan Merayakan Tahun Baru secara Normal

Suasana di salah satu titik Kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2020. /-Roman Pilipey/EPA - Guardian
01 Januari 2021 06:47 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Berbeda dari kota-kota lainnya di dunia, ribuan warga Wuhan, China tadi malam merayakan pergantian tahun baru di kota tempat wabah Covid-19 pertama kali tersebut terdeteksi.

Perayaan tersebut ditandai dengan pelepasan balon ke udara, aneka pertunjukan cahaya  serta sejumlah kegiatan lainnya setelah kota itu kembali ke kehidupan normal. Kendati demikian, sebagian besar warga kota tetap mengenakan masker saat menyambut tahun 2021.

Polisi terlihat berjaga-jaga untuk mencegah kemacetan di sekitar menara jam besar Custom House. Mereka yang berkumpul di pusat kota itu terlihat sebagian besar dari kalangan anak muda. 

"2020 telah menjadi tahun yang sangat sulit bagi kami karena kami telah mengalami epidemi, terutama di Wuhan, yang merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi kami," kata penduduk setempat bernama Xu Du seperti dikutip TheGuardian.com, Jumat (1/1).

Wuhan dikunci ketat selama lebih dari dua bulan sejak akhir Januari, tetapi kembali ke kehidupan normal sejak musim panas. Sekolah dibuka kembali sepenuhnya pada bulan September.

"China telah mengendalikan epidemi dengan sangat baik sekarang," kata Li Yusu yang tengah bersuka ria. Dia mengatakan masih ada beberapa negara lain yang terjangkit virus tersebut. Saya berharap negara lain dapat melewati kesulitan ini secepat mungkin, katanya.

China telah menghadapi kritik luas atas penanganan awal virus yang muncul pertama kali di Wuhan, di provinsi tengah Hubei, pada Desember 2019.

Negara itu dituduh menutupi wabah dan membiarkan virus menyebar secara internasional. Beijing juga baru-baru ini berusaha untuk membelokkan opini  apakah Covid-19 berasal dari Wuhan.

Pada hari Senin, wartawan  Zhang Zhan dipenjara selama empat tahun karena melaporkan kondisi di dalam Wuhan selama puncak wabah. Kota berpenduduk 11 juta orang itu terpaksa diisolasi dari Januari hingga April dan sekitar 4.000 orang meninggal dunia akibat wabah tersebut, menurut angka yang dikeluarkan pemerintah China.

Sumber : Bisnis Indonesia