Penembakan di Islamic Center San Diego Tewaskan 5 Orang
Penembakan di Islamic Center San Diego menewaskan lima orang. KJRI San Francisco memastikan tidak ada WNI menjadi korban.
Sejumlah lulusan SMA mencari informasi hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 di Depok, Jawa Barat, Jumat (14/8/2020)./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA - Peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) maupun Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) diminta agar benar-benar memperhatikan foto yang digunakan untuk pendaftaran.
"Misalnya ada peserta yang tidak fokus dan tidak niat, fotonya tidak disiapkan dengan baik. Kemudian ada juga yang fotonya selfie, dengan pacar, foto kucingnya, ada yang dengan keluarga, dan bahkan dari belakang. Foto diri yang harus dilengkapi harus foto dari depan dan sesuai aturan yang ditetapkan," ujar Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Prof Mohammad Nasih dalam sosialisi Seleksi Masuk PTN 2021 yang dipantau dari Jakarta, Selasa (15/12/2020).
Nasih menegaskan, bahwa peserta yang tidak melengkapi foto diri dengan baik, maka peluang masuk PTN kecil karena tidak diproses oleh LTMPT.
"Sejak awal peserta dengan foto diri yang tidak sesuai, tidak akan diproses dengan LTMPT karena dianggap curang. Jangan sampai sudah tes berat-berat, tapi tidak lulus karena masalah foto," ujar dia.
Baca juga: Kasus Covid Masih Naik, Pemerintah Godok Aturan Perjalanan Nataru
Nasih juga meminta agar siswa dan sekolah untuk memperhatikan beberapa hal agar siswanya tidak gagal dalam seleksi SNMPTN dan SBMPTN.
LTMPT sering mendapatkan komplain, terutama pada langkah awal pembuatan akun.
Ada beberapa siswa maupun sekolah yang terkadang teledor dan tidak menyelesaikan proses secara tuntas, data tidak sinkron dan tidak memberikan informasi apapun.
"Jika hal demikian terjadi, maka mohon maaf tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya," kata dia.
Dia juga mengingatkan siswa maupun sekolah, jika menemui kendala sejak awal untuk komplain pada LTMPT.
Jika terlambat, maka LTMPT tidak bisa menerima komplain karena proses sudah tutup dan tidak memungkinkan adanya pembetulan.
Untuk pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), katanya, hanya siswa dan sekolah yang layak yang bisa mengisi di PDSS tersebut.
Baca juga: Ditangkap KPK, Calon Petahana Ini Tetap Raup Banyak Suara di Pilkada 2020
"Paling penting terletak pada perbedaan, misalnya ada yang model SKS ada yang non-SKS. Di samping itu, untuk kawan-kawan yang mengikuti kelas percepatan atau akselerasi kerap mengalami kendala dalam proses. Mohon dicek benar, sebelum melakukan pendaftaran," ujar dia.
Nasih juga mengingatkan adanya perbedaan persepsi antara siswa, orangtua dan sekolah terkait dengan perankingan.
Dalam hal itu, Nasih mengingatkan siswa untuk berkoordinasi dengan sekolah karena LTMPT hanya memproses data yang masuk.
Dalam kesempatan itu, Nasih juga berpesan agar peserta realistis dengan program studi yang dipilihnya serta menyiapkan strategi agar dapat diterima di PTN tujuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Penembakan di Islamic Center San Diego menewaskan lima orang. KJRI San Francisco memastikan tidak ada WNI menjadi korban.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.