Biden Menang Pilpres AS, Harga Minyak dan Emas Naik

Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
09 November 2020 09:47 WIB Lorenzo Anugrah Mahardhika News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Harga minyak dunia bergerak naik mendekati US$38 per barel setelah presiden terpilih AS, Joe Biden, memasuki periode transisi menuju Gedung Putih meski Donald trump menolak mengakui kekalahannya dalam pilpres.

Tren positif serupa juga terjadi pada harga emas yang memperpanjang kenaikan harga selama tiga hari beruntun. Dilansir dari Bloomberg pada Senin (8/11/2020), harga emas di pasar Spot terpantau menguat 0,1 persen bersamaan dengan kinerja positif bursa Asia.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Desember 2020 terpantau naik 80 sen di level US$37,94 per barel pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 08.45 waktu Singapura.

Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak bulan Desember 2020 melesat 1,9 persen dan berada di kisaran US$40,18 per barel setelah anjlok 3,6 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

BACA JUGA : Petinggi Partai Republik Ucapkan Selamat pada Joe Biden

Harga minyak berjangka di New York naik 2,2 persen ditengah euforia kemenangan Biden, yang merupakan kandidat dari Partai Demokrat. Seiring dengan persiapannya menuju Gedung Putih, situasi di lantai Senat AS yang mayoritas masih dipegang oleh Partai Republik dapat mengancam prospek munculnya paket stimulus sebelum Januari 2020.

Di sisi lain, tim kampanye presiden petahana Trump menghadapi sejumlah tuntutan hukum pada beberapa negara bagian di AS atas dugaan kecurangan dalam pemilihan umum.

Biden akan mewarisi AS yang tengah terpecah dan kinerja ekonomi yang buruk seiring dengan terjadinya pandemi virus corona. Sementara itu, lonjakan kasus virus corona di wilayah Eropa berimbas pada kembali diberlakukannya lockdown.

Investor juga akan menanti dampak kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan Biden, diantaranya adalah terkait China dan sejumlah negara penghasil minyak seperti Iran dan Venezuela. Kebijakan yang tidak seagresif “America First” seperti yang dilakukan oleh Trump dinilai akan memperbaiki hubungan Negeri Paman Sam dengan negara-negara tersebut.

BACA JUGA : Mengenal Jill Biden, Ibu Negara AS yang Akan 

Selain itu, dalam pidato kemenangannya, Biden juga telah merancang sejumlah langkah yang akan diambil setelah ia resmi dilantik sebagai presiden, salah satunya adalah membawa AS kembali ke dalam Perjanjian Paris.

Senior Commodities Analyst VI Investment Corp, Will Sungchil Yun mengatakan, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Biden yang lebih stabil dan akomodatif serta tambahan paket stimulus fiskal diperkirakan akan mendorong penguatan harga minyak dunia serta emas.

“Meski demikian, volatilitas harga kemungkinan akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama karena sikap Trump yang tidak menerima kekalahannya dan lonjakan kasus virus corona di Eropa,” jelasnya.

Sentimen tersebut juga ditambah dengan angka produksi minyak Libya yang telah menembus 1 juta barel per hari. Angka tersebut semakin menambah kekhawatiran pelaku pasar akan pemulihan permintaan minyak dunia.

Menanggapi sentimen ini, organisasi negara-negara pengekspor minyak serta sejumlah negara sekutu lain atau OPEC+ akan mengkaji ulang rencana penambahan produksi minyak harian yang sebelumnya telah dibahas.

Sementara itu, di Asia, impor minyak yang dilakukan China pada Oktober 2020 anjlok ke level terendah dalam enam bulan memasuki musim permintaan yang rendah. Hal tersebut terjadi ditengah angka impor keseluruhan yang naik 10 persen menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi di Negeri Panda tersebut.

Wilayah Asia masih tetap menjadi penopang permintaan minyak dunia ditengah penyebaran virus corona yang kembali terjadi di wilayah AS dan Eropa.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia