Berjarak 4,5 Km dari Puncak Merapi, Wisata Kali Talang Balerante Ditutup Sementara

Gunung Merapi terlihat dari Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (29/10/2020). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta per 28 Oktober 2020 mencatat terjadi 85 kali gempa guguran, 57 kali gempa hembusan, 2 kali gempa frekuensi rendah, 157 kali gempa hybrid/fase banyak, 15 kali gempa vulkanik dangkal dan 4 kali gempa tektonik jauh dengan potensi ancaman luncuran awan panas dari kubah lava, status waspada (level II). - Antara/Hendra Nurdiyansyah
02 November 2020 08:47 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN – Aktivitas berkemah di objek wisata Kali Talang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang ditutup sementara. Hal itu dilakukan menyusul ada peningkatan aktivitas kegempaan di Gunung Merapi.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, mengatakan aktivitas wisata tetap berjalan normal dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Hanya, kegiatan camping untuk sementara waktu ditutup sejak Jumat (30/10/2020).

“Selama ini setiap Sabtu malam, pasti ada pengunjung yang camping di Kali Talang. Tetapi, mulai Jumat kemarin kami tutup untuk kegiatan camping. Untuk kegiatan siang [wisata alam] masih buka,” jelas Jainu saat berbincang dengan Solopos.com, jaringan Harianjogja.com, Minggu (1/11/2020).

Baca juga: Ngeri, Ini 7 Rute Kereta Api Paling Berbahaya di Dunia

Objek wisata Kali Talang merupakan salah satu destinasi wisata di lereng Gunung Merapi. Kali Talang berjarak sekitar 4,5 km dari puncak Gunung Merapi.

Sementara itu, kabar peningkatan aktivitas Gunung Merapi tak memengaruhi aktivitas warga yang tinggal berdekatan dengan puncak gunung tersebut. Seperti warga di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. Warga tetap beraktivitas biasa seperti berkebun atau mencari rumput di kawasan perbukitan.

Ketua RT 22/RW 10, Dukuh Petung, Desa Sidorejo, Permana, mengatakan warga di wilayahnya tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa sejak ada peningkatan status Gunung Merapi dari normal ke waspada sejak 21 Mei 2018 yang bertahan hingga kini. Meski tenang, Permana menegaskan warga tetap waspada. Hal itu seperti ketika mencari rumput di wilayah dengan radius lebih dari 3 km dari puncak Merapi.

Baca juga:Tamanmartani Jadi Kalurahan Pemajuan Kebudayaan Berbasis Digital

“Tetapi tetap kami menjaga kewaspadaan. Dari tim-tim siaga desa [sukarelawan] selalu mengingatkan. Termasuk pada kegiatan pagi ini kami gotong royong memperbaiki jalan [penghubung Sidorejo dengan Tegalmulyo] agar sewaktu-waktu ada erupsi, warga yang biasa mencari rumput bisa lancar proses evakuasinya,” kata Permana.

Warga Dukuh Deles, Sarjino, juga menyampaikan selama ini warga tetap tenang meski ada kecenderungan peningkatan aktivitas Gunung Merapi. “Masyarakat di sini sudah belajar sejak erupsi 2006. Warga tetap tenang-tenang saja tetapi tidak lantas mengabaikan kewaspadaan. Warga tetap menjauhi alur-alur sungai ketika mencari rumput,” jelas Sarjino.

Sarjino mengatakan warga selama ini selalu aktif menghimpun informasi soal perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari BPPTKG. “Kemungkinan besar tingkat risikonya kecil, tidak sebesar pada [erupsi] 2006,” jelas Sarjino.

Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Klaten, Sujarwanto Dwiatmoko, mengatakan persiapan untuk antisipasi terjadi erupsi Gunung Merapi sudah dilakukan sejak Merapi berada pada status waspada sejak hampir 2,5 tahun terakhir. “Jalur evakuasi sudah diperbaiki, jaringan komunikasi juga dijalin terus. Insyaallah siap [untuk kebutuhan logistik dan pengungsian],” kata Sujarwanto.

Sumber : JIBI/Solopos