Advertisement
Gara-Gara Corona, Satu dari Lima Pemuda di Inggris Menganggur
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona penyebab Covid-19. - Bloomberg
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pengangguran di Inggris mencapai 2,5 juta orang. Artinya satu dari lima orang muda di Negeri Ratu Elizabeth ini telah kehilangan pekerjaan.
Angka resmi menunjukkan tingkat pengangguran Inggris di kisaran 4,5 persen pada kuartal kedua, tetapi survei terhadap lebih dari 6.000 orang dewasa pada bulan September menunjukkan angka tersebut bisa mencapai 7 persen.
Advertisement
Survei yang dilakukan oleh YouGov untuk Resolution Foundation menunjukkan angka pengangguran untuk usia 18-24 tahun sebesar 20 persen, yang akan menandai tingkat pengangguran kaum muda terburuk dalam empat dekade.
Dikutip dari Yahoo Finance UK, lembaga think tank mengungkapkan meningkatnya pengangguran lebih disebabkan karena meningkatnya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan selama krisis virus Corona daripada pemangkasan karyawan yang meluas. Lowongan dan jumlah pekerja baru sama-sama sepertiga lebih rendah dari biasanya.
Survei ini termasuk dalam laporan 'Jobs, Jobs, Jobs' yang diterbitkan YouGov pada hari Rabu (28/10/2020).
Laporan tersebut menjelaskan dampak yang tidak proporsional dari krisis pekerjaan pada sebagian populasi. Yang paling terpengaruh tetap mereka yang berada di sektor perhotelan dan leisure yang terpukul keras oleh lockdown. Sementara itu, karyawan muda, lebih tua, tidak aman, bergaji rendah dan bekerja organisasi kecil lebih cenderung terpengaruh dari dampak Covid-19 ini.
40 persen pekerja yang melaporkan kehilangan pekerjaan antara Februari dan September memiliki kontrak yang tidak aman, menurut penelitian tersebut.
Sekitar satu dari lima pekerja di daerah yang paling miskin juga kehilangan pekerjaan, dirumahkan atau gaji yang dikurangi pada awal September karena pandemi.
Banyak pekerja mandiri juga menderita. Lebih dari setengahnya, melaporkan penghasilan yang lebih rendah dari biasanya setiap bulan sejak April. Dua pertiga dari mereka yang tidak mengklaim hibah pemerintah mengatakan bahwa mereka telah kehilangan pendapatan.
Laporan tersebut menyoroti tantangan jangka panjang yang dihadapi pasar pekerjaan. Studi tersebut menemukan tingkat keberhasilan yang rendah dalam menemukan pekerjaan pada bulan September di antara mereka yang kehilangan pekerjaan. Sepertiga dari mereka yang berusia 18-24 tahun.
Banyak pencari kerja juga mencari pekerjaan di sektor industri manufaktur, meskipun tantangan sektor masih berat.
"Oleh karena itu, pembuat kebijakan tidak boleh berasumsi bahwa pekerja yang menganggur akan dengan mudah atau cepat terserap ke bagian lain ekonomi," lembaga think tank tersebut memperingatkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
- Ledakan Petasan di Pamekasan Bongkar Produksi Berdaya Ledak Tinggi
- China Desak Penghentian Konflik Timur Tengah Saat Idulfitri
- Konflik Gas Iran-Qatar Picu Lonjakan Harga, Trump Berubah Arah
- Di Momen Lebaran Vladimir Putin Soroti Peran Muslim Rusia
Advertisement
Investor Kereta Gantung Prambanan Siap Paparan ke Pemda DIY
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Aturan WFH Satu Hari Seminggu Tidak Berlaku bagi Semua Sektor Pekerja
- FIFA Series, Sejumlah Pemain Langganan Timnas Garuda Dicoret
- Warga Terharu Bisa Salaman Langsung dengan Presiden Prabowo di Istana
- Kunjungan di Breksi Diperkirakan Tak Seramai Tahun Lalu
- Absen Saat Salat Idulfitri, Yaqut Ternyata di Luar Rutan
- Prabowo dan Megawati Bahas Isu Geopolitik Global di Istana Jakarta
- Ingin Berlibur ke Solo tanpa Macet, Cek Jadwal KRL Minggu 22 Maret
Advertisement
Advertisement







