Wapres Maruf Amin Ingatkan Jangan Terjebak Pencitraan di Medsos

Wakil Presiden Maruf Amin. - Ist/Dokumentasi KIP/Setwapres
26 Oktober 2020 13:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Media sosial bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia, sekaligus bisa memiliki efek buruk. Wakil Presiden Maruf Amin mengungkapkan masih banyak orang terjebak dalam mental pencitraan dengan mempublikasikan perbuatan amalnya melalui berbagai media sosial (media sosial).

Lewat publikasi itu, orang justru mengesampingkan niat untuk berbuat baik itu sendiri, kata Maruf Amin dalam sambutannya pada acara Haul ke-39 KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar atau dikenal dengan Mbah Hamid Pasuruan secara virtual dari Jakarta, Senin (26/10/2020).

Menurutnya, saat ini banyak orang terjebak pada mentalitas syuhrah, yaitu mentalitas pencitraan diri agar dikenal luas.

Baca juga: Warga Kota Jogja Terus Diedukasi untuk Lakukan Pencegahan Covid-19

"Amal kebaikan yang dilakukan diorientasikan agar di-cover media secara luas. Motivasinya hanya untuk membentuk citra diri, bukan berbuat kebajikan itu sendiri,” katanya seperti yang dilansir dari Antara.

Wakil Presiden menambahkan, banyaknya media publikasi di era digital saat ini, justru digunakan oleh sebagian orang sebagai alat ukur terhadap kebaikan orang lain.

Padahal, tidak semua hal yang dipublikasikan tersebut memiliki dampak positif.

Baca juga: Libur Panjang, Objek Wisata di Sleman Siap Terapkan Protokol Kesehatan

“Publisitas di era digital ini seakan menjadi kata kunci untuk mengukur kebaikan seseorang. Padahal belum tentu apa yang di-publish tersebut mempunyai dampak positif yang lebih besar daripada yang tidak di-publish,” terang Maruf.

Oleh karena itu, Maruf berharap umat Islam lebih menekuni sikap Mbah Hamid yang menerapkan ajaran khumul, dengan mengutamakan pada kegiatan kebaikan dan menutupi kebaikan tersebut supaya tidak diketahui orang lain.

“Saya sangat mengagumi Mbah Hamid yang dalam kehidupan kesehariannya sangat tawadhu, sederhana dan menjauh dari publisitas. Hal seperti itu dalam tradisi ilmu tasawuf dikenal dengan khumul, yaitu fokus pada aktifitas kebaikan dengan membungkus dan menutupinya agar tidak diketahui orang lain,” jelasnya.

Kata Maruf, perkembangan teknologi digital harus dapat dimanfaatkan dengan benar untuk tujuan kebaikan. Alih-alih untuk memamerkan kebaikan, media sosial seharusnya digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan baik.

“Meskipun begitu dakwah melalui media digital sesungguhnya juga diperlukan pada era saat ini karena dakwah melalui digital jangkauannya lebih luas dan dapat dilakukan kapan dan dimana saja,” tegasnya.

Sumber : Suara.com