AS Akan Mulai Suntik Vaksin Covid-19 Akhir Januari

Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin - JIBI/Bisnis.com
24 Oktober 2020 08:37 WIB Fransisco Primus Hernata News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Semua lansia, petugas kesehatan, responden pertama, dan individu yang rentan Covid-19 di Amerika Serikat akan diberi vaksin pada akhir Januari tahun depan.

Menurut Alex Azar, Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) Amerika Serikat, jadwal ini bertumpu pada faktor kritis yaitu tingkat cukupnya data untuk mengetahui bahwa vaksin itu aman dan efektif. Bahkan perusahaan obat yang melakukan uji klinis fase 3 tahap akhir belum mengetahui apakah calon vaksin mereka memenuhi standar tersebut.

Raksasa farmasi Pfizer, yang sedang menguji salah satu kandidat vaksin terkemuka di AS, mengharapkan data tingkat keamanan dan efesiensi yang cukup pada minggu ketiga di bulan November. Dengan asumsi hasilnya akan positif, perusahaan pada saat itu akan mengajukan izin penggunaan darurat (EUA) di A.S.

Tetapi bahkan jika vaksin disetujui, mereka belum mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi dan mendistribusikannya kepada semua orang di A.S. Sebagai bagian dari Operation Warp Speed yang dicetuskan oleh pemerintah, banyak kandidat vaksin terkemuka sudah diproduksi sebelum hasil uji coba. Vaksin ini akan siap didistribusikan sebelum diberikan persetujuan, ujar Azar.

Pada akhir tahun, para pejabat berharap akan ada cukup vaksin resmi FDA untuk dapat memvaksinasi populasi individu yang paling rentan, kata Azar. "Kemudian pada akhir Januari, kami berharap akan memiliki cukup dana untuk memvaksinasi semua lansia serta petugas kesehatan kami dan penanggap pertama. Dan pada akhir Maret hingga awal April, cukup vaksin untuk semua orang Amerika yang ingin meminumnya. Vaksin," ujar Azar.

Namun Azar tidak menyebutkan anak-anak, yang merupakan kelompok usia di mana banyak perusahaan vaksin terkemuka belum melakukan uji coba.

Dr. William Schaffner, spesialis penyakit menular di Vanderbilt University di Tennessee mengatakan proses itu akan memakan waktu lebih lama daripada deadline saat ini.

Salah satu alasannya adalah skeptisisme publik tentang keamanan dan kemanjuran vaksin Covid-19, yang semakin meningkat terutama di komunitas Afrika-Amerika dan etnis yang terkena dampak virus secara tidak proporsional, Schaffner mengatakan kepada Live Science.

Survei telah menunjukkan bahwa sebanyak setengah populasi orang Amerika tidak mempercayai vaksin ini, katanya.

"Kita harus bekerja sangat keras, untuk meyakinkan orang bahwa vaksin itu aman, efektif dan bermanfaat untuk didapatkan,” ujar Schaffner.

Kelompok orang pertama yang perlu diyakinkan adalah para profesional medis, karena merekalah yang akan menjangkau pasien mereka untuk memberikan pengetahuan dan jaminan, tambah Schaffner.

Untuk sampai ke tangan publik, vaksin pertama-tama harus melewati lima tahap pemeriksaan independen, sehingga orang-orang di Amerika Serikat harus merasa "sangat yakin," dengan prosesnya, kata Azar.

Pertama, dewan keamanan dan pemantauan data independen akan memeriksa data dan menentukan apakah uji klinis vaksin telah mencapai titik akhir yang mereka tentukan sebelumnya, atau tahap penting yang dapat dengan jelas menunjukkan apakah suatu vaksin berhasil atau tidak. Jika sudah, data itu akan diajukan kepada perusahaan dan FDA, ujarnya.

Kedua, perusahaan akan memiliki proses peninjauan sendiri, dan hasilnya harus memenuhi standar etika mereka sendiri sebelum perusahaan mengajukan EUA (Emergency Use Authorization). Ketiga, FDA akan mengevaluasi vaksin berdasarkan dua pasang pedoman, yaitu pedoman vaksin umum untuk COVID-19 dan pedoman EUA yang kedua.

Keempat, komite penasihat eksternal akan memberi saran kepada FDA dan pertemuan ini akan disiarkan ke publik. Dan kelima yang terakhir, ilmuwan dengan karir FDA akan memutuskan apakah akan menyetujui vaksin, kata Azar.

Tetapi juga akan ada hambatan pengemasan, pengiriman dan penanganan seperti halnya dengan semua vaksin,ujar Schaffner.

Vaksin Pfizer, misalnya, perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin sekitar minus 70 derajat Celcius (minus 94 derajat Fahrenheit). Jadi vaksin tidak bisa begitu saja didistribusikan kepada dokter dan farmasi karena mereka tidak memiliki kapasitas freezer, ujar Schaffner.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia