Bibit Vaksin Merah Putih Diserahkan Ke Bio Farma Awal 2021

Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021 - Antara/Dhemas Reviyanto
20 Oktober 2020 17:27 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan Vaksin Merah Putih yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Universitas Indonesia akan diserahkan kepada PT Bio Farma (Persero) pada awal 2021.

Bambang berpendapat Vaksin Merah Putih yang dibuat oleh kedua institusi itu sudah mencapai fase uji kepada hewan saat ini.

“Diperkirakan yang bisa paling cepat artinya awal tahun depan bisa diserahkan bibit vaksinya ke Bio Farma itu adalah yang dari Eijkman dan UI karena tahapannya sudah mendekati atau sudah masuk ke tahap uji hewan,” kata Bambang dalam konpers virtual, Selasa (20/10/2020).

Di sisi lain, dia mengatakan pihaknya telah mengirim 114 whole genome sequencing (WGS) dari pasien positif Covid-19 di Indonesia kepada GISAID untuk mempercepat pembuatan Vaksin Merah Putih.

“Untuk memperkuat vaksin tersebut kita terus melakukan WGS untuk mempelajari karakter virus yang bertransmisi di Indonesia. Saat ini kita sudah mengirimkan sebanyak 114 WGS kepada GISAID yang merupakan bank data virus influenza di dunia,” tuturnya.

Menurut dia, pembuatan Vaksin Merah Putih saat ini sudah bekerja sama dengan enam lembaga di dalam negeri. Adapun enam institusi itu melakukan pengembangan vaksin dengan berbagai platform.

“Ada Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengembangkan vaksin Merah Putih dengan dua platform yaitu sub-unit protein rekombinan dan inactivated virus. LIPI mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan fusi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan platform DNA, mRNA, dan virus-like-particles. Institut Teknologi Bandung mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. Sementara itu, Universitas Airlangga mengembangkan vaksin dengan 2 platform yaitu adenovirus dan adeno-associated virus (AAV).

“UGM mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia