Ahli: Jangan Lengah, Virus Corona Masih Berbahaya dan Mematikan

Ingat Pesan Ibu, Jangan Lupa Pakai Masker. - Harian Jogja/Dok
19 Oktober 2020 13:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Ahli kesehatan memperingatkan bahwa Corona masih merupakan virus parah dan mematikan, kendati tingkat kematiannya sekarang jauh lebih rendah dibandingkan dengan masa puncak pandemi Covid-19.

Alison Pittard, Dekan Faculty of Intensive Care Medicine in London mengatakan pemahaman dokter yang berkembang tentang virus telah secara dramatis menaikkan tingkat kelangsungan hidup. Pada awal pandemi, hanya 66 persen orang di rumah sakit yang selamat, sementara pada Agustus angkanya naik menjadi 84 persen.

Dia mengatakan, upaya seperti pembatasan sosial memiliki sumbangsih besar selain disiplin mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

“Ini merupakan virus yang sangat mematikan, meskipun mayoritas orang yang masih terinfeksi akan menderita penyakit yang sangat kecil atau bahkan tidak tahu sama sekali bahwa mereka terinfeksi,” katanya seperti dikutip Sky News, Senin (19/10/2020).

Pittard melanjutkan bagi orang-orang yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan bagi mereka yang datang ke unit perawatan intensif, penyakit itu biasanya sangat parah. Menurutnya, pasien dalam perawatan kritis biasanya mengalami kondisi sakit parah.

Oleh sebab itu, penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa penyakit ini masih ada, masih bisa berdampak parah. Jika orang dengan Covid-19 berada dalam perawatan kritis, mereka hampir dua kali lebih mungkin meninggal daripada orang yang dirawat dengan pneumonia.

Menurutnya, tindakan yang tepat perlu diambil apakah seseorang yang terinfeksi perlu menggunakan ventilator atau tidak. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengingat pusat layanan kesehatan juga memiliki keterbatasan akan hal itu.

“Pada awalnya kami biasa menempatkan pasien langsung dengan ventilator mekanik. Jadi kami akan membawa mereka ke perawatan intensif, membius dan meletakkan ventilator. Tapi kami perlahan mulai menyadari bahwa mungkin kami dapat menangani beberapa pasien tanpa hal itu,” tandasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia