Muhammadiyah & GP Ansor Kecam Penyerangan terhadap Midodareni di Solo

Polisi berjaga di gang masuk lokasi kejadian keributan antarwarga di Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (9/8/202). - JIBI/Solopos/Nicolous Irawan
10 Agustus 2020 13:27 WIB Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, SOLO—Kekerasan mengatasnamakan agama terjadi di RW 001 Kampung Mertodranan, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020) sore menuai kecaman dari Muhammadiyah dan GP Ansor. Sejumlah orang mengamuk dan berusaha membubarkan tradisi midodareni. Massa juga menyerang Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai.

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah (Jateng) mendatangi Mapolresta Solo pada Minggu (10/8/2020) siang untuk memberikan dukungan moral kepada polisi agar mengungkap kasus dan menangkap semua pelaku kericuhan. GP Ansor juga mengecam aksi intoleransi yang membuat beberapa orang mengalami luka itu. Kecaman serupa datang dari Pemuda Muhammadiyah Daerah Solo.

BACA JUGA: 103 Jenazah Di Klaten Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

"Kami mengutuk keras serta mengecam segala tindak kekerasan dalam bentuk apa pun yang mengatasnamakan apa pun.  Seharusnya kita lebih mengutamakan dialog dan diskusi dalam penyelesaian berbagai persoalan," ujar Rizky Novandi, Pengurus Bidang Hikmah, Kebijakan Publik dan Huhungan Antar Lembaga Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Solo, dalam siaran pers yang diterima Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Senin (10/8) siang.

Menurut dia Pemuda Muhammadiyah Solo juga mendukung segala upaya penegakan hukum terkait kasus tersebut. "Kami juga mendukung aparat kepolisian agar segera menuntaskan kasus tersebut. Kami mempercayakan proses hukum kasus ini kepada aparat kepolisian untuk mengusutnya. Semoga bisa segera terungkap," urai dia.

Rizky menyatakan aksi kekerasan di Mertodranan telah mencederai Solo sebagai kota yang aman, tenang dan damai. Kondusivitas wilayah sangat penting, apalagi menjelang pelaksanaan Pilkada Solo 2020. "Di tengah situasi persiapan pilkada saat ini, kami berharap situasi di Solo tetap kondusif dan aman. Ruang ruang diskusi perlu dihidupkan kembali, dibudayakan di tengah masyarakat," kata dia.

BACA JUGA: Ini Kronologi Penemuan Jasad Balita yang Diduga Korban Terakhir Peristiwa Tenggelam di Pantai Goa Cemara

Jaringan Gusdurian juga meminta polisi mengusut tuntas penyerangan terhadap warga yang menggelar tradisi midodareni di Kampung Mertodranan.

Komunitas yang berupaya memelihara gagasan Presiden Keempat Indonesia sekaligus tokoh NU, mendiang Abdurrahman Wahid, tersebut mengutuk penyerangan tersebut karena mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

“Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun,” kata Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, melalui keterangan tertulis, Minggu (9/8/2020).

BACA JUGA: Pakar dari Maryland Prediksi Covid-19 Tewaskan 12.000 Orang di Indonesia

Menurut dia, kepolisian harus menegakkan hukum tanpa mempertimbangkan opsi harmoni sosial yang hanya akan melanggengkan praktik kekerasan. “Pelaku harus dihukum setimpal sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujar Alissa.

Jaringan Gusdurian juga meminta kepada pemerintah daerah agar menjamin keamanan warga negara, khususnya kelompok rentan serta meminta tokoh agama setempat untuk bahu-membahu menebar gagasan agama yang penuh rahmah. Sebab, intoleransi terjadi salah satunya karena adanya ideologisasi nilai-nilai eksklusivisme yang dibalut dengan semangat keagamaan.

“Kami mengajak para Gusdurian dan masyarakat umum untuk terus merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan para pendiri bangsa. Sejak didirikan, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, adat istiadat, dan lain sebagainya. Kami menyerukan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan dan ujaran kebencian pada mereka yang berbeda. Sebagaimana kata Gus Dur, kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan,” kata Alissa.

BACA JUGA: Korban Terakhir Ditemukan, Pantai Goa Cemara Segera Kembali Dibuka

Keributan terjadi di RW 001 Kampung Mertodranan, Kelurahan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020) malam.

Puluhan orang tidak dikenal mendatangi rumah salah seorang warga sekitar pukul 17.45 WIB. Tak lama berselang terjadi keributan di Mertodranan yang mengakibatkan sekitar tiga orang luka ringan.

“Tadi malam tidak ada bakar-bakaran. Pak polisi langsung antisipasi. Kejadian sekitar Magrib sampai setelah Isya. Setelah itu dijaga terus oleh polisi. Jalarane [penyebab] nya kesalahpahaman. Ada wargaku mau lamaran. Rumangsane  acara yang melanggar," ujar Supatno, Lurah Pasar Kliwon, Minggu (9/8/2020).

BACA JUGA: Pengumuman SBMPTN Diajukan 14 Agustus, Ini Cara Mengakses..

Dia tidak tahu penyebabnya. Keributan itu membuat sekitar tiga orang di Mertodranan terluka.

“Keluarga dikumpulkan karena mau lamaran. Tapi dikira acara tertentu. Mereka dikira kelompok tertentu atau bagaimana, saya kurang tahu,” ujar dia.

Selain menyebabkan tiga orang luka, keributan di Mertodranan itu juga membuat beberapa kendaraan rusak.

BACA JUGA: Zona Kuning Boleh Buka Pembelajaran Tatap Muka, Ini Kata Disdik Kota Jogja

Kapolresta Solo, Kombes Pol Andy Rifai, mengatakan kondisi para korban tindak kekerasan itu sudah membaik dan menjalani rawat jalan. “Kondisi korban sudah membaik, sudah rawat jalan. Pengamanan keluarga korban juga sudah kami lakukan,” ujar dia.

Andy menyatakan polisi masih menyelidiki insiden tersebut. Dia tidak menyebutkan berapa saksi yang sudah dimintai keterangan. Dia beralasan seluru anggotanya masih bertugas di lapangan. Acara yang digelar malam itu adalah tradisi Midodareni, atau doa persiapan sebelum upacara pernikahan yang diikuti oleh sekitar 20 orang.

Di tengah melancarkan aksinya, sekelompok orang memekikkan teriakan takbir, meneriakkan bahwa Syiah bukan Islam, dan penganut Syiah halal darahnya. Massa mencurigai Midodareni yang dilakukan malam itu merupakan kegiatan ritual keagamaan diyakini oleh penganut Syiah.

Sumber : JIBI/Solopos