Merapi Bengkak, Bupati Klaten: Truk Pasir Dikurangi

Warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan tetap mencari rumput di area Objek Wisata Bukit Klangon pasca erupsi Gunung Merapi yang ketiga kali, Sabtu (28/3/2020) pagi. - Ist
10 Juli 2020 09:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KLATENGunung Merapi kini sedang mengalami penggembungan alias bengkak. Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengimbau jumlah truk pengangkut bahan galian golongan C atau truk pasir yang biasa lalu lalang di wilayah lereng Gunung Merapi dikurangi. 

Selain itu, peningkatan aktivitas Gunung Merapi hingga kini masih berada pada level II atau waspada. Pengurangan jumlah truk pengangkut bahan galian golongan C bertujuan agar lalu lintas di lereng Merapi tak terlalu padat.

Terleibih ketika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat atau ketika ada erupsi dan mengharuskan warga yang tinggal di daerah rawan terdampak segera diungsikan dari kampung mereka. Wilayah rawan terdampak erupsi Gunung Merapi yakni Kecamatan Kemalang selama ini menjadi lokasi pertambangan galian C.

"Untuk aktivitas pertambangan dengan adanya aktivitas Merapi perlu diwaspadai bersama. Saya minta ke OPD terkait untuk mengurangi lalu lintas atau transportasi kaitannya pengangkut golongan C. Bukan menyetop ya," jelas Mulyani saat ditemui di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten, Kamis (9/7/2020).

Perempuan 43 tahun itu mengatakan kebijakan mengurangi jumlah truk pasir di kawasan pertambangan lereng Merapi sebenarnya sudah dikeluarkan sejak awal pandemi Covid-19 beberapa bulan lalu.

Dalam kebijakan itu, Mulyani menerangkan truk yang diizinkan menuju lokasi pertambangan bahan galian golongan C hanya truk dengan sopir ber-KTP Klaten.

Sementara itu, sopir truk dari luar Klaten diminta melakukan pembelian bahan galian golongan C di depo pasir. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi menyebarnya Covid-19 di wilayah Kemalang.

"Memang sudah kami ambil kebijakan itu biar tidak terlalu banyak aktivitas di sana," kata Sri Mulyani.

Disinggung hingga kini aktivitas truk masih seperti biasa atau masih banyak truk yang lalu lalang menuju kawasan pertambangan, Mulyani mengatakan kondisi itu biasa terjadi lantaran sopir melintasi jalur tikus.

"Ya kalau kucing-kucingan itu biasa. Nanti petugasnya akan lebih masif lagi untuk melakukan operasi," urai Mulyani.

Dishub Klaten

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Klaten, Sudiyarsono, truk pasir masih akan lalu lalang di kawasan lereng Merapi termasuk jalur evakuasi jika aktivitas pertambangan masih berjalan. Soal pengendalian truk yang dikendarai para sopir dari luar daerah, Sudiyarsono mengatakan segera dilakukan operasi bersama kepolisian dan Satpol PP.

"Kami akan mengendalian truk-truk yang menuju ke atas. Truk dari luar daerah kami arahkan untuk tidak naik [menuju lokasi pertambangan]. Mereka bisa melakukan pengambilan material dari depo-depo pasir di bawah," kata Sudiyarsono.

Soal jumlah truk yang biasa lalu lalang di kawasan pertambangan galian C wilayah Klaten, Sudiyarsono memperkirakan per hari mencapai 2.000 truk. Hanya saja, selama masa pandemi Covid-19 jumlah truk yang beraktivitas di lokasi pertambangan diperkirakan berkurang.

"Turun ya menjadi 1.000-1.500 truk per hari. Karena memang pembangunan yang membutuhkan material galian C tidak sebanyak sebelum ada Covid-19," jelas dia.

Gubernur Ganjar

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, meminta ada kontrol aktivitas pertambangan galian C. Salah satunya mengangkut material disesuaikan kapasitas muatan.

"Saya minta dilakukan kontrol aktivitas pertambangan dan cara mengangkutnya mereka harus taat. Kalau tidak, mereka akan kami operasi semuanya," tutur Ganjar.

Sumber : Solopos.com