Penanganan Covid 19: Warganet Nilai Komunikasi Publik yang Dijalankan Pemerintah Tak Saintifik

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto memberikan update data virus corona (Covid-19) di Indonesia dalam konferensi pers dari Graha BNPB, Minggu (24/5/2020) - Dok./Gugus Tugas Covid/19
19 Juni 2020 12:37 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Warganet menyoroti latar belakang protokol komunikasi publik dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Salah satu akun twitter menuding protokol komunikasi publik yang dijalankan pemerintah tidak saintifik.

“Protokol Komunikasi pemerintah bikin mind set masyarakat keliru sehingga sense of crisis rakyat rendah,” cuit salah seorang warganet pemilik akun @firdzaradiany alias Beruang Kutub.

Dia menilai protokol komunikasi pandemi di Indonesia diarahkan untuk membuat rakyat tenang bukan aman dan sehat.

“Protokol komunikasi pandemi pemerintah; dilarang untuk menggunakan kata genting atau krisis. Tujuannya mengkatrol persepsi rakyat kepada pemerintah,” cuitnya.

Akun @firdzaradiany beropini bahwa strategi penanganan Covid-19 milik pemerintah Indonesia lebih difokuskan pada bidang psikologis, sebesar 80 persen, ketimbang pendekatan medis sebesar 20 persen.

Saat mencuit soal pandangan bahwa latar belakang protokol komunikasi publik pemerintah tidak saintifik, akun ini menyertakan tangkapan layar latar belakang protokol komunikasi dari KSP.

Tangkapan layar itu dibubuhi komentar, "Ini berkas resmi. Akar dan kitab suci begitu kacaunya komunikasi publik pandemi ini."   

Sedangkan pada tangkapan layar tersebut tertulis kalimat sebagai berikut:

LATAR BELAKANG

Dalam penanganan wabah penyakit di dunia, Anthony de Mello pernah mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. (Mello, A. D. (1997). The heart of the enlightened: a book of story meditations. Glasgow: Fount Paperbacks)

Kalimat tersebut diberi tanda kotak, seperti tampak pada foto berikut:

Berdasarkan penelusuran Bisnis, seperti dilansir laman https://www.ignatianspirituality.com, Anthony de Mello adalah seorang psikoterapis. Ia kemudian terkenal luas karena karya-karyanya terkait spiritualitas. Pengaruhnya pertama-tama meluas di kalangan Serikat Yesuit di India, lalu menyeberang ke komunitas lain. Kemudian de Mello populer di Amerika Serikat pada pertengahan 1970-an.

Di antara beberapa karya de Mello yang terkenal adalah Sadhana: A Way to God dan The Song of the Bird. Kedua karya itu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Kanius dengan judul Sadhana dan Yayasan Cipta Loka Caraka dengan judul Burung Berkicau.

Protokol Komunikasi Publik Covid-19

Berdasar penelusuran Bisnis, Kantor Staf Presiden pernah mengunggah informasi tentang dokumen Protokol Komunikasi Covid-19.

Keterangan di Laman ksp.go.id menyebutkan bahwa dokumen tersebut menjelaskan hal-hal terkait komunikasi penanganan Covid-19. Komunikasi tersebut merupakan respons dari berkembangnya Covid-19 yang terindentifikasi pertama kali di Provinsi Wuhan, China.

"Dokumen ini adalah petunjuk teknis untuk Indonesia yang akan membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menanggapi dan menyampaikan informasi tentang Covid-19 kepada masyarakat," demikian dijelaskan di laman tersebut.

Disebutkan bahwa dokumen tersebut dapat diperbarui sesuai dengan perkembangan informasi tentang Covid-19 di dunia.

"Protokol ini diadopsi dari beberapa protokol yang ada, khususnya yang dibuat oleh WHO," demikian paparan pengantar di laman tersebut.

Selain mengutip de Mello, bagian latar belakang menjelaskan bahwa komunikasi adalah bagian terpenting dalam menghadapi ancaman pandemi.

"Kepercayaan publik perlu dibangun dan dijaga agar tidak terjadi kepanikan dalam masyarakat dan agar penanganan dapat berjalan lancar," demikian paparan di bagian latar belakang.

Disebutkan pula bahwa salah satu instruksi yang diberikan Presiden Joko Widodo adalah harus
menunjukan bahwa Pemerintah serius, Pemerintah siap dan Pemerintah mampu untuk menangani outbreak ini.

"Persepsi tentang kesiapan dan keseriusan Pemerintah perlu disampaikan kepada publik melalui penjelasan yang komprehensif dan berkala, dengan menjelaskan apa yang sudah dan akan dilakukan oleh Pemerintah," demikian penjelasan di bagian latar belakang.

Protokol komunikasi ini bertujuan menciptakan masyarakat yang tenang, dan paham apa yang harus
dilakukan bagi lingkungan terdekatnya. Komunikasi publik ini juga dimaksudkan untuk membangun persepsi masyarakat bahwa Negara hadir dan tanggap dalam mengendalikan situasi krisis yang terjadi.

Dalam menyampaikan komunikasi publik terkait Covid-19 terdapat empat hal yang menjadi pilar yakni:

  1. Imbauan agar masyarakat tetap tenang dan waspada
  2. Koordinasi dengan instansi terkait.
  3. Pemberian akses informasi ke media
  4. Pengarusutamaan gerakan “cuci tangan dengan sabun”

Sedangkan narasi utama yang disampaikan adalah pemerintah serius, siap dan mampu menangani Covid-19, masyarakat tetap tenang dan waspada, Covid-19 bisa sembuh, dan #LAWANCOVID19.

Untuk koordinasi komunikasi dan informasi Sesditjen P2P Kemenkes dr. Achmad Yurianto ditetapkan sebagai Juru Bicara Covid-19.

Protokol ini juga menyebutkan soal Kegiatan pembentukan Tim Komunikasi, penunjukkan Jubir dari Kemenkes, pembentukan media center, serta pembuatan website sebagai rujukan informasi utama.

Sedangkan data harian nasional secara berkala disampaikan melalui konferensi pers (yang
dilakukan hanya oleh Juru Bicara Covid-19), rilis dan update disediakan di website.

Informasi yang disampaikan meliputi jumlah dan sebaran Orang dalam Risiko (ODR), jumlah dan sebaran, Orang dalam Pemantauan (ODP), jumlah dan sebaran Pasien dalam Pengawasan (PDP), jumlah dan sebaran, pasien yang sudah dinyatakan sehat, jumlah dan sebaran spesimen yang diambil, serta jumlah dan sebaran, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen.

Protokol ini mengatur sejumlah hal lainnya, termasuk pendekatan yang dilakukan dengan menyebutkan beberapa tindakan yang boleh dilakukan, yaituL

- Sampaikan imbauan untuk tetap tenang
- Pemerintah Daerah agar berkomunikasi secara intens dengan pemerintah pusat
- Apabila ada kasus di daerah Anda, langsung lapor ke Dinas kesehatan secepat-cepatnya
- Memberikan akses kepada media untuk mengetahui informasi terkini mengenai virus
- Lakukan koordinasi dengan instansi terkait/Forkopimda untuk menjaga situasi tenang dan kondusif
- Meningkatkan kewaspadaan pada kelompok-kelompok yang berpotensi terdampak
- Memonitor tanggapan dari masyarakat tentang isu terkait
- Ketika bertemu media, berikan informasi sejelas-jelasnya kepada publik
- Jubir harus bisa ditemui dan bisa dihubungi setiap saat
- Selalu sampaikan pesan Pola Hidup Bersih dan Sehat
- Apabila bertemu media, gunakan bahasa Indonesia yang sederhana sehingga bisa dipahami masyarakat awam
- Menunjukkan bahasa tubuh yang menampilkan pesan “siap dan mampu” menangani Covid-19
- Sampaikan update informasi secara berkala (jumlah kasus,penanganan, dll) yang disampaikan oleh otoritas resmi
- Saat memberikan update informasi, pastikan mencantumkan keterangan waktu untuk menjamin ketepatan informasi (sebagai contoh, status pada hari Senin tanggal 3 Februari 2020 Pukul 10.00 WIB, tidak ada warga yang terinfeksi Covid-19)
- Pada setiap perubahan yang terjadi, informasikan bahwa ini merupakan perubahan dari informasi sebelumnya
- Sampaikan juga bahwa stok sembako cukup sehingga masyarakat tidak perlu panik

Adapun, tindakan yang tidak boleh dilakukan adalah:
- Jangan gunakan kata “genting”, “krisis” dan sejenisnya.
- Pastikan identitas dan lokasi pasien tidak disampaikan ke publik..
- Jangan memberikan informasi yang berisi asumsi dan dugaan.
- Jangan menggunakan bahasa teknis atau bahasa asing yang sulit dipahami masyarakat awam.
- Jangan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak serius apalagi meremehkan situasi dengan bercanda.

Tanggapan Achmad Yurianto

Menanggapi cuitan Twitter, Jubir Percepatan Penanganan Covid-19 T Achmad Yurianto menyampaikan bahwa Gugus Tugas bertugas melayani masyarakat.

"Yang dibutuhkan adalah edukasi aman dari Covid dan bisa produktif," jelas Yuri.

Terkait tudingan Komunikasi Publik tidak saintifik, Yuri mempersilakan hal itu ditanyakan kepada Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Prof. Wiku.

"Kalau butuh yang saintifik silakan tanya ke Prof Wiku," ujar Yuri.

Sekain menjadi Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D. tercatat sebagai Sekretaris MWA UI dan Guru Besar FKM UI.

Adapun tim pakar terdiri atas sejumlah pakar medis, pakar kesehatan masyarakat, pakar modelling, pakar teknologi alat kesehatan, pakar laboratorium diagnostik, pakar bidang hukum dan sosial, serta staf tim pakar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia