Advertisement
Akibat Corona, Perhotelan Mulai Rumahkan Pegawai
Ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan seusai memberikan keterangan pers mengenai dampak virus corona pada sektor pariwisata, di Jakarta, Kamis (12/3/2020). Sektor pariwisata nasional berpotensi kehilangan devisa senilai US530 juta akibat adanya virus corona. Kemenparekraf merencanakan insentif tiket pesawat untuk mendorong peningkatan wisatawan nusantara. - JIBI/Bisnis.com/Triawanda Tirta Aditya
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Penyebaran virus Corona berdampak pada anjloknya okupansi hotel di beberapa daerah. Akibatnya, beberapa hotel menawarkan cuti hingga merumahkan pekerja hariannya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengakui industri perhotelan sangat terpukul dengan pandemi Corona.
Advertisement
Menurutnya, di Jakarta tingkat okupansi perhotelan hanya mencapai 30 persen. Menurutnya, jika okupansi hotel telah mencapai 30 persen, dampaknya perhotelan harus menekan biaya operasional termasuk pengeluaran untuk membayar pekerja hotel.
Dia menjelaskan, di industri perhotelan ada tiga kategori jenis karyawan yaitu pekerja harian, kontrak dan tetap.
Dengan adanya wabah corona, membuat perhotelan mulai melakukan penghentian penggunaan pekerja harian. Sedangkan untuk pekerja kontrak dan tetap diberikan waktu kerja namun dilakukan secara bergiliran.
“Nah yang sekarang terjadi daily worker tidak dipakai. Sementara yang karyawan kontrak dan permanen, itu sudah mulai mereka itu masuknya giliran. Sebab perusahaan sedang jaga cash flow. Kalau masuk semua [pekerjanya] maka pengeluarannya [biaya tenaga kerja]100 persen, sekarang perusahaan coba jaga [pengeluaran tenaga kerja] di angka 50 persen,” kata Hariyadi, Kamis (12/3).
Di sisi lain, Hariyadi mengatakan skema insentif berupa penanggungan pajak hotel oleh pemerintah sampai saat ini masih belum dirasakan oleh pengusaha hotel.
Adapun Hariyadi mengatakan semula pihaknya menargetkan adanya pertumbuhan okupansi sebesar 10 hingga 12 persen pada 2020.
Namun, dikarenakan adanya wabah virus corona, maka target pertumbuhuan okupansi tersebut dikoreksi menjadi hanya sebesar 5 persen.
“[Pertumbuhan 5 persen] Itu pun, jika stimulus yang diberikan oleh pemerintah sudah bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Jangan Terlewat KIP Kuliah 2026 Dibuka Ini Jadwal dan Cara Daftar
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan bagi 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
Advertisement
Advertisement








