Peneliti LIPI: Perubahan Lahan di Hulu dan Hilir Sebabkan Banjir Parah

Ilustrasi. - Solopos/Nicolous Irawan
07 Januari 2020 22:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) M Fakhrudin menuturkan perubahan lahan yang berlangsung cepat menyebabkan menurunnya kemampuan daya resap sistem daerah aliran sungai (DAS) di Jabodetabek sehingga tidak mampu menyerap limpahan air hujan yang turun pada saat cuaca ekstrem dan akhirnya mengakibatkan banjir di wilayah itu.

"Hal ini menyebabkan proporsi jumlah air hujan yang dikonversi langsung menjadi aliran permukaan atau direct run-off akan cenderung terus meningkat," kata Fakhrudin dalam konferensi pers Banjir Ibu Kota: Potret Aspek Hidrologi dan Ekologi Manusia di LIPI, Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Ketika daya resap dan daya dukung lingkungan menurun dan curah hujan ekstrem terjadi, maka banjir menjadi bencana yang tak terelakkan.

Hujan yang turun di daerah Jakarta dan sekitarnya merupakan hujan yang ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat curah hujan ekstrem yakni 377 milimeter (mm) terjadi di Halim Perdanakusuma, 335 mm/hari di Taman Mini, dan 259 mm/hari di Jatiasih. Curah hujan masuk kategori ekstrem jika lebih dari 150 mm/hari.

Fakhrudin mengatakan curah hujan ekstrem yang besar dan merata menjadi penyebab utama banjir di Jakarta dan sekitarnya. Dalam kondisi cuaca ini, bagian hilir seperti Jakarta mengalami banjir, diperburuk lagi dengan beberapa jam kemudian air datang dari hulu sehingga meningkatkan banjir.

Daya lingkungan menurun dan daya resap berkurang disebabkan oleh terganggunya atau menurunnya fungsi-fungsi resapan akibat perubahan lahan yang cepat seperti penggunaan lahan yang beralih fungsi di daerah hulu termasuk Bogor sudah meningkat luar biasa beberapa tahun terakhir, sehingga harus dikendalikan agar tidak memperburuk kerusakan lingkungan ke depan.

Perubahan lahan tersebut di antaranya ditandai dengan perubahan kawasan hutan, kebun dan pertanian menjadi permukiman atau hutan berubah menjadi lahan pertanian baru.

“Misalkan hutan terganggu sedikit saja akan menyebabkan daya dukung lingkungan langsung turun karena berkurangnya daya serap lingkungan, bahkan air dari hujan ekstrem tidak dapat diserap oleh tanah dan lingkungan sehingga berakibat banjir,” kata dia.

Untuk itu perlu perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan baik di hulu maupun hilir. Daerah di hulu harus mampu mengontrol air supaya meresap banyak di tanah.

Oleh karenanya, keberadaan dan kelestarian hutan harus dijaga terus. Demikian pula pertanian harus ramah lingkungan serta warga di daerah permukiman tidak membuang sampah sembarangan. Masyarakat juga jangan membuang air ke tanah tetapi ke penampungan.

Sementara di daerah bagian hilir, dapat dilakukan berbagai upaya antara lain harus dipastikan sistem drainase yang mikro sudah terintegrasi dengan baik dengan drainase makronya, kemudian sistem pemompaan air juga berfungsi baik.

Lahan yang bisa untuk sumber resapan juga hendaknya dijaga, begitu juga dengan ekosistem di situ-situ juga harus terjaga dan terpelihara dengan baik.

Sumber : Antara