Iran Bakal Balas Pembunuhan Soleimani, Sebut AS & Israel Akan Meratap

Garda Nasional Iran - Antara
03 Januari 2020 16:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Garda Revolusi Iran dan pasukan-pasukan anti-Amerika Serikat di seluruh dunia Muslim disebut akan membalas pembunuhan pemimpin Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Juru Bicara Garda Revolusi Iran Ramezan Sharif melontarkan ancaman itu melalui televisi nasional Iran, Jumat (3/12/2020)

“Garda Revolusi, bangsa Iran yang bijaksana dan front perlawanan di dunia Muslim yang membentang luas akan membalas tumpahnya darah syuhada ini [Soleimani],” kata Ramezan Sharif.

“Kegembiraan Zionis dan Amerika dalam waktu dekat akan berubah menjadi ratapan,” katanya.

Iran kerap mengacu negara-negara dan pasukan di kawasan yang menentang Israel dan Amerika Serikat sebagai front perlawanan. Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami menyatakan Iran akan membalas pembunuhan Soleimani.

“Balas dendam yang menghantam akan kami lakukan untuk pembunuhan tidak adil terhadap Soleimani. Kami akan membalas semua yang terlibat dan bertanggung jawab atas pembunuhan itu,” ujar Hatami.

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei sama-sama memberikan respons senada. Keduanya menyebut bahwa Iran akan lebih bertentangan lagi dengan AS.

“Kematian syahid Soleimani akan membuat Iran menjadi lebih tegas menentang ekspansionisme AS serta membela nilai-nilai Islam. Tanpa keraguan, Iran dan negara-negara lain yang mencari kemerdekaan di kawasan akan mengambil jalan pembalasan,” kata Rouhani.

“Semua musuh harus sadar bahwa perlawanan jihad akan berlanjut dengan motivasi yang berlipat ganda, dan kemenangan yang nyata tengah menanti para pejuang dalam perang suci,” kata Khamenei.

Ia menyerukan hari berkabung nasional selama tiga hari.

Soleimani tewas dalam serangan pasukan Amerika Serikat di Irak pada Jumat (3/1/2020) waktu setempat. Pentagon mengonfirmasi Soleimani dibunuh atas arahan Presiden Donald Trump.

Tayangan televisi setempat memperlihatkan rekaman saat Soleimani bersama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan berada di zona perang dalam pakaian militer.

Salah satu cuplikan memperlihatkan Soleimani mengkomandoi sebuah unit dalam perang Iran dengan Irak pada tahun 1980-an. Kariernya kemudian melejit melalui jajaran Garda Revolusi Iran untuk menjadi kepala Pasukan Quds.

Pada 2019, pemerintah AS melabeli Garda Revolusi sebagai organisasi teroris asing. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan untuk memaksa Iran menegosiasikan program rudal balistik dan kebijakan nuklirnya.

Pasukan Quds yang dipimpin Soleimani membantu milisi mengalahkan ISIS di Irak. Keberhasilan pasukan elite ini mendorong peran Soleimani dalam penyebaran kekuatan Iran di Timur Tengah.

Khamenei menjadikan Soleimani pemimpin Pasukan Quds pada 1998.  Pengaruh Soleimani di dalam militer Iran tampak jelas pada tahun 2019 ketika Khamenei menganugerahinya medali Order of Zolfiqar, penghargaan militer tertinggi Iran. Ini adalah pertama kalinya seorang komandan menerima medali sejak Iran didirikan pada 1979.

Soleimani juga bertanggung jawab atas pengumpulan intelijen dan operasi militer rahasia yang dilakukan oleh Pasukan Quds. Pada 2018, ia secara terbuka menantang Presiden AS Donald Trump.

Sementara, Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengecam pembunuhan Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan udara Amerika Serikat di Baghdad.

Serangan udara di bandara Baghdad itu adalah, menurut dia, aksi agresi terhadap Irak dan pelanggaran atas kedaulatan, yang akan mengarah pada perang di Irak, kawasan, dan dunia, tegas Mahdi dalam suatu pernyataan.

Serangan itu juga melanggar syarat-syarat yang telah ditetapkan menyangkut keberadaan militer AS di Irak dan harus dipenuhi dengan undang-undang untuk menjaga keamanan dan kedaulatan Irak, katanya menambahkan. Mahdi mendesak parlemen Irak untuk menggelar sidang luar biasa untuk membahas dan menyikapi peristiwa serangan tersebut.

 

Sumber : Antara