Pemerkosaan Remaja di Wonogiri: Polisi Minta Publik Tak Sudutkan Korban

Ilustrasi pemerkosaan. - JIBI
10 November 2019 20:17 WIB Rudi Hartono News Share :

Harianjogja.com, WONOGIRI—Penyidik Polres Wonogiri baru menetapkan satu tersangka pemerkosaan remaja putri asal Nguntoronadi, Wonogiri, Jawa Tengah. Tersangka tersebut adalah pria berusia 39 tahun. Polisi juga meminta publik tidak menyudutkan korban.

Menurut informasi, ada enam orang yang disebut-sebut sebagai pelaku pemerkosaan itu. Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Purbo Ajar Waskito, kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Minggu (10/11/2019), menyampaikan hingga hari itu belum ada tambahan tersangka.

Penyidik masih terus mengembangkan penyidikan untuk menelusuri kemungkinan pelaku lain sebagai tersangka. Dalam penyidikan, satu tersangka adalah lelaki yang terakhir diduga memperkosa remaja putri tersebut pada Maret lalu.

Si tersangka mengaku sebelumnya pernah berhubungan badan dengan korbannya pada September 2018. Penyidik berencana memeriksa sejumlah lelaki yang diduga pernah memperkosa remaja itu.

“Kami sudah memiliki bukti visum [bukti yang tak terbantahkan]. Siapa saja yang mencabuli korban akan kami kejar. Kalau dari pengakuan tersangk, ada beberapa temannya yang pernah berhubungan badan dengan korban. Mereka warga satu desa dengan tersangka dan korban,” kata Purbo mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, melalui telepon.

Purbo mengatakan penyidik juga masih perlu meminta keterangan lebih lanjut dari korban. Penyidik sebelumnya pernah memeriksanya, tapi belum selesai.

"Dia tidak bisa fokus menjawab, lebih banyak diam kalau ditanya. Kemungkinan korban trauma, karenanya kami tak ingin memperparahnya. Unit PPA selain menangani kasusnya juga mendampingi korban untuk memulihkan kondisi psikologisnya,” imbuh Purbo.

Dia mengimbau masyarakat tak menggulirkan isu korban menawarkan diri. Purbo menyayangkan isu tersebut karena belum diketahui kebenarannya.

Menurut dia, isu semacam itu bisa memperparah kondisi psikologis korban dan keluarganya. Banyak pengguna akun di media sosial yang justru menyalahkan korban karena menurut mereka korban menawarkan diri. Kasus ini sebelumnya diselesaikan secara mediasi di tingkat desa. Hasilnya disepakati kasus ini tak dibawa ke ranah hukum tapi para pelaku harus memberi uang Rp7,5 juta per orang untuk biaya perawatan korban hingga melahirkan.

Sumber : JIBI/Solopos